Bulan Januari 2018 adalah salah satu bulan bersejarah untuk perkembangan diri Kasih. Beberapa waktu yang lalu ayah Kasih, Kasih, dan saya mendiskusikan bagaimana caranya supaya talenta piano Kasih bisa bermanfaat bagi orang lain. Ayah mengusulkan agar Kasih mulai mengajar adik-adik yang mau belajar piano. Ayah bilang nanti akan menanyakan ke temannya yang punya anak, apakah anaknya mau belajar piano.
Singkat cerita, bulan Januari ini Kasih punya satu murid, namanya Sarah. Dia anak teman ayah. Kasih melatih Sarah bermain piano di tempat kakek Sarah. Ayah dan bunda bergantian mengantar ke sana beberapa kali, sampai Kasih bisa berangkat sendiri dengan angkot atau ojek online.
Semoga ini menjadi langkah awal yang mengarah ke tujuan hidup yang dirancangkan Tuhan untukmu ya, nak.
Tuesday, January 30, 2018
Wednesday, June 5, 2013
Berempati dan Saling Membantu
Sore itu udara cerah sekali. Anugrah dan Kasih bermain bersama beberapa teman. Mereka berkejar-kejaran, naik sepeda, bermain mobil-mobilan, memanjat pohon dan lain-lain.
Ketika waktunya berpisah, anak-anak kembali ke rumah masing-masing. Anak-anak melanjutkan aktivitas mereka di rumah, sementara bunda menyiapkan makan malam.
Tiba-tiba di depan rumah terdengar orang memanggil. Ternyata ibu dari salah seorang teman Nugrah masih di sana bersama anaknya. Saya segera keluar rumah dan bertanya, "Ada apa, bu?" Lalu dijawab, "Ada yang lihat mainan G? katanya tadi dimainkan oleh J." Terlihat wajah G (anak ibu itu) sangat sedih. Mendengar itu saya mengajak anak-anak untuk mencari mainan itu bersama-sama.
Kami menyusuri tempat-tempat mereka bermain tadi. Walaupun hari mulai gelap, kami masih bisa melihat dan berusaha mencari. Saya bertanya, "Masih ingat nggak ditaruh di mana?", kepada J, salah satu teman Nugrah. "J tadi taruh di dekat tangga", kata anak itu. Kami pun segera menuju ke tempat yang disebutkan oleh J.
"Nggak enak nih, jadi ngerepotin," kata ibu G sambil menggandeng anaknya. "Tapi mainan itu mainan kesayangannya, dia sampai merengek-rengek waktu minta mainan itu." "Nggak apa-apa kok, kataku, "biar anak-anak belajar bertanggung jawab juga."
Ketika tiba di tempat itu, kami langsung mencari dan akhirnya mainan itu ditemukan. G terlihat senang sekali, dan kami juga merasa lega. Akhirnya kami semua saling berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing.
Kejadian itu menjadi renungan bagi saya bahwa kesempatan untuk berempati dan saling membantu merupakan hal yang langka saat ini. Orang cenderung lebih suka sendiri dan merasa sungkan untuk meminta bantuan orang lain. Dunia sudah terkotak-kotak sehingga orang lebih suka berusaha sendiri dan yang lain tidak berani membantu walaupun mereka melihat orang itu sudah susah payah.
Peristiwa kemarin merupakan kesempatan bagi kami dan anak-anak untuk belajar berempati dan memberikan bantuan kepada teman yang sedang mengalami persoalan. Bersyukur kami bisa melakukannya dan mengikutsertakan anak-anak di dalamnya. Saya berharap kami bisa mendapat kesempatan lebih banyak untuk melakukan hal ini, bukan hanya kepada orang-orang yang kami kenal, tapi juga kepada orang lain.
Sumber gambar: di sini
Tuesday, June 4, 2013
Ekstraksi DNA
Beberapa waktu lalu, kami menonton Festival STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) di halaman Museum Geologi Bandung. Di sana banyak stand yang menarik, mulai dari stand astronomi, farmasi, biologi, robotik, sampai pertunjukan sains oleh Bapak Hizkia Achmad, salah satu dosen senior di jurusan Kimia ITB.Salah satu stand yang kami kunjungi adalah Jurusan Biologi ITB. Di sana Kasih mendapat penjelasan tentang ekstraksi buah tomat untuk mengidentifikasi DNA-nya.
Terinspirasi oleh penjelasan itu, Kasih mencoba melakukan eksperimen sendiri untuk mengidentifikasi DNA. Step-step percobaan tersebut akan dijelaskan oleh Kasih dalam video berikut:
Labels:
10 tahun,
eksperimen,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
sains,
science,
video
Monday, June 3, 2013
Anugrah Belajar Membaca
"Sini, Nug, kita belajar (membaca)," kata saya sambil mengambil sebuah buku pelajaran membaca. Anugrah, yang sedang bermain, datang mendekat. Dia melihat-lihat buku itu lalu berkata, "Nggak, ah!", sambil kembali ke permainannya. Kejadian itu kurang lebih satu tahun yang lalu, ketika Anugrah berusia lima tahun.Kenapa saya berusaha mengajaknya belajar membaca? Salah satu alasan utama adalah karena kakaknya, Kasih, sudah bisa membaca pada umur tiga tahun. Mestinya dia juga sudah bisa, begitu menurut pikiran saya. Tapi ternyata dia bahkan tidak mau menyentuh buku itu.
Awalnya saya tidak memaksa untuk belajar membaca, tapi lama-lama khawatir juga. Kapan ni anak bisa membaca? Ibunya harus belajar sabar menunggu waktu anaknya tiba nih... heuheuheu..
Kalau mengenal huruf, dia sudah lama bisa, tapi mengeja, masih suka salah. Tiap hari masih minta dibacakan buku cerita, tapi tidak mau kalau disuruh belajar membaca.
Sampai suatu kali, setelah usianya enam tahun, dia mulai membuka sebuah buku dan mengeja. Buku yang mana? Ya, buku pelajaran membaca itu! Dia mengeja b-a 'ba', c-a 'ca', d-a 'da', dan seterusnya. Selanjutnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia mulai membaca beberapa buku yang sederhana.
Sampai hari ini, pada usia enam setengah tahun, dia sudah membaca banyak buku. Kadang-kadang saya memintanya untuk membaca keras-keras. Kadang dia mau, tapi kadang juga menolak. Tidak apa-apa, pikirku, yang penting dia sudah bisa membaca.
Yah, waktu tiap anak untuk menguasai satu hal memang berbeda-beda, seperti juga orang dewasa. Yang terpenting ada keinginan untuk bisa, dan tidak pernah berhenti belajar setelah mengetahui dan menguasai satu kecakapan.
Labels:
6 tahun,
Anugrah,
homeeducation,
Homeschool,
membaca
Tuesday, April 30, 2013
Belajar Blogging: Siapa Yang Tidak Mau??
Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Kegiatan sehari-hari yang kulakukan adalah aktivitas rutin rumah tangga dan menjadi teman dan fasilitator bagi kedua anak kami yang bersekolah di rumah (homeschooling).
Sejak kecil aku suka menulis catatan harian/diary dan setelah mengenal internet aku suka menulis blog. Blog yang kubuat sejak tahun 2009 ini merupakan catatan kegiatan keluarga kami, sekaligus portofolio homeschooling anak-anak kami. Di sela-sela kesibukan aku menyempatkan untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang sempat kutuliskan. Dengan blog gratisan dari blogspot, aku bisa menuangkan keinginan untuk menulis dan menyimpan setiap momen yang akan kuingat selamanya.
Keinginanku yang terbesar saat ini adalah meningkatkan kemampuan dalam bidang-bidang yang kusukai dan memberi manfaat sebanyak mungkin bagi orang lain. Kadang-kadang kurasa bahwa keinginan itu terlalu tinggi, tapi aku tetap meyakini: di mana kemauan di situ ada jalan. Semangat!
Beberapa waktu lalu aku mengajukan diri menjadi relawan untuk mendesain layout blog di majalah Proaktif-Online. Tujuan utamanya sebenarnya supaya aku terpacu untuk terus belajar dalam hal blogging, sekaligus menyalurkan hobby mengutak-atik blog. Tak disangka, ternyata teman-teman memberi kesempatan, yang membuatku senang sekaligus kuatir. Senang karena aku bisa berkontribusi di bidang yang kusuka, tapi kuatir karena kemampuanku dalam hal desain blog masih sangat minimal.
Ketika membaca informasi Workshop online membuat blog dari Digital Mommie, aku pikir ini mungkin kesempatan bagiku untuk belajar dan meng-upgrade kemampuan dalam membuat blog. Kalau memang diizinkan oleh Tuhan, aku ingin belajar banyak dari workshop ini.
Beberapa topik yang aku ingin pelajari lebih dalam adalah cara membedakan dan membuat post/pages, ilustrasi konten, instalasi template, template designer & favicon, mengolah foto, audio, dan video, header dan background, dan integrasi dengan media sosial (FB, twitter, dll).
Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali, jadi aku memberanikan diri menuliskan note ini. Mudah-mudahan aku bisa mendapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam blogging, dan hasilnya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.

Sejak kecil aku suka menulis catatan harian/diary dan setelah mengenal internet aku suka menulis blog. Blog yang kubuat sejak tahun 2009 ini merupakan catatan kegiatan keluarga kami, sekaligus portofolio homeschooling anak-anak kami. Di sela-sela kesibukan aku menyempatkan untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang sempat kutuliskan. Dengan blog gratisan dari blogspot, aku bisa menuangkan keinginan untuk menulis dan menyimpan setiap momen yang akan kuingat selamanya.
Keinginanku yang terbesar saat ini adalah meningkatkan kemampuan dalam bidang-bidang yang kusukai dan memberi manfaat sebanyak mungkin bagi orang lain. Kadang-kadang kurasa bahwa keinginan itu terlalu tinggi, tapi aku tetap meyakini: di mana kemauan di situ ada jalan. Semangat!
Beberapa waktu lalu aku mengajukan diri menjadi relawan untuk mendesain layout blog di majalah Proaktif-Online. Tujuan utamanya sebenarnya supaya aku terpacu untuk terus belajar dalam hal blogging, sekaligus menyalurkan hobby mengutak-atik blog. Tak disangka, ternyata teman-teman memberi kesempatan, yang membuatku senang sekaligus kuatir. Senang karena aku bisa berkontribusi di bidang yang kusuka, tapi kuatir karena kemampuanku dalam hal desain blog masih sangat minimal.
Ketika membaca informasi Workshop online membuat blog dari Digital Mommie, aku pikir ini mungkin kesempatan bagiku untuk belajar dan meng-upgrade kemampuan dalam membuat blog. Kalau memang diizinkan oleh Tuhan, aku ingin belajar banyak dari workshop ini.
Beberapa topik yang aku ingin pelajari lebih dalam adalah cara membedakan dan membuat post/pages, ilustrasi konten, instalasi template, template designer & favicon, mengolah foto, audio, dan video, header dan background, dan integrasi dengan media sosial (FB, twitter, dll).
Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali, jadi aku memberanikan diri menuliskan note ini. Mudah-mudahan aku bisa mendapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam blogging, dan hasilnya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Terima kasih.
Saturday, April 20, 2013
Membuat Api Dengan Kaca Pembesar
Halo, apa kabar?
Setelah lama tidak menulis di blog, di beberapa postingan selanjutnya saya mencoba menuliskan lagi kegiatan anak-anak kami. Kebanyakan yang bisa saya rekam adalah kegiatan membuat percobaan atau eksperimen.
Kali ini anak-anak mencoba membuat api dengan menggunakan loop (kaca pembesar). Mereka mendapat benda 'ajaib' ini sebagai oleh-oleh dari ayah dan dari rumah eyang mereka di Solo.
Kenapa saya menyebutnya sebagai benda ajaib? Karena kaca pembesar bisa mengumpulkan panas matahari dan mengubahnya menjadi api. Api beneran, yang bisa membakar? Iya dong, memangnya ada api yang lain, hehehe..
Trus, syaratnya apa dan caranya bagaimana?
Syaratnya: Ketika melakukan percobaan mesti ada cahaya matahari langsung/ cuaca harus cerah. Caranya gampang, arahkan satu sisi kaca pembesar ke cahaya matahari, dan satu sisinya lagi ke kertas/daun kering. Gerakkan kaca pembesar mendekati atau menjauhi matahari sehingga terlihat ada satu titik di kertas atau daun kering. Kalau sudah kelihatan satu titik, jagalah agar posisi kaca pembesar tidak bergeser. Perhatikan deh, dalam beberapa detik akan muncul api dan membakar kertas atau daun itu.
Hal-hal yang perlu diwaspadai, jangan menggunakan terlalu banyak daun kering, karena api akan mudah membesar dan menyebar ke mana-mana. Selain itu, dipastikan adanya pengawasan orang dewasa/orang tua ketika melakukan percobaan ini.
Yuk, dicoba! Pasti menyenangkan bermain sambil belajar..
Setelah lama tidak menulis di blog, di beberapa postingan selanjutnya saya mencoba menuliskan lagi kegiatan anak-anak kami. Kebanyakan yang bisa saya rekam adalah kegiatan membuat percobaan atau eksperimen.
Kali ini anak-anak mencoba membuat api dengan menggunakan loop (kaca pembesar). Mereka mendapat benda 'ajaib' ini sebagai oleh-oleh dari ayah dan dari rumah eyang mereka di Solo.
Kenapa saya menyebutnya sebagai benda ajaib? Karena kaca pembesar bisa mengumpulkan panas matahari dan mengubahnya menjadi api. Api beneran, yang bisa membakar? Iya dong, memangnya ada api yang lain, hehehe..
Trus, syaratnya apa dan caranya bagaimana?
Syaratnya: Ketika melakukan percobaan mesti ada cahaya matahari langsung/ cuaca harus cerah. Caranya gampang, arahkan satu sisi kaca pembesar ke cahaya matahari, dan satu sisinya lagi ke kertas/daun kering. Gerakkan kaca pembesar mendekati atau menjauhi matahari sehingga terlihat ada satu titik di kertas atau daun kering. Kalau sudah kelihatan satu titik, jagalah agar posisi kaca pembesar tidak bergeser. Perhatikan deh, dalam beberapa detik akan muncul api dan membakar kertas atau daun itu.
Hal-hal yang perlu diwaspadai, jangan menggunakan terlalu banyak daun kering, karena api akan mudah membesar dan menyebar ke mana-mana. Selain itu, dipastikan adanya pengawasan orang dewasa/orang tua ketika melakukan percobaan ini.
Yuk, dicoba! Pasti menyenangkan bermain sambil belajar..
Membuat Api1
Membuat Api2
Labels:
10 tahun,
6 tahun,
Anugrah,
api,
eksperimen,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
kids experiments,
percobaan,
sains
Wednesday, January 30, 2013
Jewel Beetle (Samber Lilin/Samber Iler)
Belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, begitulah prinsip home education keluarga kami. Setiap hari tidak luput dari kegiatan belajar. Belajar bukan berarti harus membuka buku atau mengerjakan worksheet, tetapi mengamati sesuatu dan membicarakan suatu hal juga merupakan bagian dari belajar.
Saat itu kami sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman suami di Jawa Tengah. Dengan membawa kendaraan pribadi, tentu saja sang supir maupun para penumpang sering merasa lelah. Kami pun berhenti di tepi jalan di daerah Majenang untuk beristirahat. Saya akan keluar dari mobil, ketika tiba-tiba terdengar seruan anak-anak, "Bunda, lihat ini..bagus sekali serangganya!" Saya pun segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka. Ternyata anak-anak menemukan seekor serangga yang memiliki sayap warna-warni.
"Bunda, ini ada lagi..!" kata Kasih sambil berlari ke arah pohon-pohon waru. Anak-anak menemukan lebih dari satu serangga warna-warni itu. Ternyata ada banyak serangga yang serupa di daun-daun pohon waru di dekat lokasi kami beristirahat. Kelihatannya pohon-pohon di daerah itu merupakan habitat yang cocok untuk mereka berkembang biak.
Kasih menanyakan nama serangga itu kepada beberapa orang yang berjualan kelapa muda di dekat situ, tetapi dia hanya mendengar sekilas. "Kedengarannya seperti 'sambileler'," kata Kasih.
Beruntung ada banyak teman-teman di facebook yang gemar mempelajari serangga. Ketika kami memuat foto-foto serangga cantik itu di dinding FB saya, teman-teman itu memberi tahu bahwa nama lokalnya adalah 'samber iler' atau 'samber lilin'. Sementara nama Latinnya adalah Chrysochroa fulminans. Serangga ini merupakan keluarga dari Buprestidae.
Dengan bantuan teman-teman, saya dan anak-anak menjadi tahu nama dan jenis serangga tersebut. Dari situ saya belajar bahwa ketika kita menyimpan pengetahun untuk diri kita sendiri, pengetahuan itu hanya milik kita sendiri. Tetapi ketika kita membagikan pengetahuan kepada yang lain, maka pengetahuan kita dan orang lain juga akan bertambah.
Labels:
10 tahun,
6 tahun,
Anugrah,
chrysochroa fulminans,
homeeducation,
Homeschool,
jewel beetle,
Kasih,
sains,
samber iler,
samber lilin
Monday, December 24, 2012
Panji Semirang
Beberapa hari yang lalu Kasih ikut lomba Tari Bali. Dalam perlombaan ini Kasih mempertunjukkan Tari Panji Semirang. Tari ini menceritakan tentang seorang perempuan yang menyamar menjadi laki-laki, dalam rangka mencari kekasihnya yang hilang. Walaupun tidak menang, karena memang belum sempurna, Kasih tetap senang menarikannya, dan saya percaya dia sudah melakukan yang terbaik.
Saya mencoba merekam ketika Kasih menari, untuk dokumentasi. Berhubung kamera yang ada hanya kamera saku, hasilnya tidak terlalu bagus.
Selamat menikmati!
Saya mencoba merekam ketika Kasih menari, untuk dokumentasi. Berhubung kamera yang ada hanya kamera saku, hasilnya tidak terlalu bagus.
Selamat menikmati!
Labels:
10 tahun,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
Panji Semirang,
tari bali,
video
Saturday, December 1, 2012
Handmade Snow Globe
Sering kali Kasih melihat snow globe yang lucu-lucu, baik di tontonan maupun yang dijual di toko-toko. Terutama pada saat-saat menjelang Hari Natal, biasanya banyak toko yang memajang berbagai bentuk dan ukuran snow globe.
Saya mengusulkan, mengapa kita tidak membuat sendiri snow globe? Kasih setuju. Kami mulai mencari-cari cara membuatnya di beberapa situs, terutama di pinterest.com. Setelah memperoleh informasi dari beberapa situs, kami mencari bahan yang dibutuhkan. Ternyata bahan yang dibutuhkan sederhana sekali, yaitu botol/wadah bekas yang transparan, air, glitter, gliserin, boneka kecil, lem, hiasan, dan kreativitas ^_^.
Dengan bahan-bahan tersebut, Kasih mulai membuat snow globe-nya sendiri. Boneka ditempelkan ke dasar botol bekas body cream. Setelah menempel dan lem mengering, Kasih mengisi botol dengan air sampai penuh, lalu menaruh glitter ke dalam air dan menutup botolnya dengan rapat. Tak lupa juga ditambahi hiasan-hiasan yang lucu-lucu ;)
Kalau botol dikocok, glitter akan menyebar ke mana-mana dan membuat snow globe terlihat sangat cantik.
Selamat mencoba! ^_^
Saya mengusulkan, mengapa kita tidak membuat sendiri snow globe? Kasih setuju. Kami mulai mencari-cari cara membuatnya di beberapa situs, terutama di pinterest.com. Setelah memperoleh informasi dari beberapa situs, kami mencari bahan yang dibutuhkan. Ternyata bahan yang dibutuhkan sederhana sekali, yaitu botol/wadah bekas yang transparan, air, glitter, gliserin, boneka kecil, lem, hiasan, dan kreativitas ^_^.
Kalau botol dikocok, glitter akan menyebar ke mana-mana dan membuat snow globe terlihat sangat cantik.
Selamat mencoba! ^_^
![]() |
| Snow globe buatan Kasih |
Labels:
10 tahun,
craft,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih
Friday, October 12, 2012
Pinguin dari Botol Bekas
Salah satu kebiasaan anak-anak adalah mengumpulkan barang bekas seperti botol-botol plastik bekas minuman ringan atau air mineral, kantong plastik, pembungkus, atau karton susu. Biasanya setelah digunakan, barang-barang itu dicuci dan dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam kardus bekas.
Kadang-kadang pusing juga karena barang-barang bekas jadi menumpuk di rumah dan tidak tahu harus dibuang ke mana. Kalau ada pemulung biasanya kami berikan, tetapi tidak semua pemulung mau menerima jenis barang tertentu.
Salah satu solusi yang mungkin adalah menggunakan kembali barang tersebut setelah di-'daur ulang'. Proses daur ulang yang kami lakukan adalah membuat barang-barang kerajinan/craft dari barang bekas itu.
Ide kerajinan tangan kali ini adalah membuat pinguin dari botol bekas minuman ringan (Coke). Sumber idenya bisa dilihat di berbagai blog/website, tapi yang kami gunakan bersumber dari sini.
Bahan dan alat yang dibutuhkan:
Cara pembuatan:
Pinguin telah selesai dan bisa digunakan sebagai tempat alat tulis dan gunting..
sumber foto: dokumen pribadi dan pinguin de garafa pet
Kadang-kadang pusing juga karena barang-barang bekas jadi menumpuk di rumah dan tidak tahu harus dibuang ke mana. Kalau ada pemulung biasanya kami berikan, tetapi tidak semua pemulung mau menerima jenis barang tertentu.
Salah satu solusi yang mungkin adalah menggunakan kembali barang tersebut setelah di-'daur ulang'. Proses daur ulang yang kami lakukan adalah membuat barang-barang kerajinan/craft dari barang bekas itu.
Ide kerajinan tangan kali ini adalah membuat pinguin dari botol bekas minuman ringan (Coke). Sumber idenya bisa dilihat di berbagai blog/website, tapi yang kami gunakan bersumber dari sini.
Bahan dan alat yang dibutuhkan:
- Botol bekas minuman ringan (Coke) 2 buah
- Cat akrilik/PVA putih, hitam, dan berbagai warna
- Vernis
- Kuas
- Spidol hitam
- Benang wool
- Kain bekas untuk syal pinguin
- Gunting
Cara pembuatan:
- Cuci bagian luar dan dalam botol, lalu keringkan
- Potong botol yang satu menjadi dua bagian sama panjang seperti gambar di bawah ini
![]() |
| sumber: di sini |
- Potong botol yang lainnya seperti gambar di bawah ini:
![]() |
| sumber: di sini |
- Cat bagian luar botol dengan cat dasar warna putih
- Gambar perut pinguin dengan spidol hitam seperti gambar di bawah ini
![]() |
| sumber gambar: di sini |
- Cat bagian perut dengan warna putih. Hati-hati agar tidak melewati garis pembatas
![]() |
| sumber gambar: di sini |
- Cat bagian luar dan kaki pinguin dengan warna hitam
- Cat bagian atas/kepala pinguin dan hiasi
- Gambarkan mata dan paruh pinguin pada bagian perut (yang berwarna putih)
- Setelah cat mengering, lapisi dengan cat vernis agar mengkilap (opsional)
- Buat pompom dengan menggunakan benang, tempelkan ke bagian atas kepala pinguin
![]() |
| sumber gambar: di sini |
- Hiasi dengan 'syal' yang terbuat dari kain bekas
sumber foto: dokumen pribadi dan pinguin de garafa pet
Labels:
5 tahun,
9 tahun,
Aktivitas,
Anugrah,
craft,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
prakarya
Monday, July 9, 2012
Perlombaan 17-an di RW
Dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan RI yang ke 67, RW akan mengadakan berbagai perlombaan untuk anak-anak dan dewasa, yang akan diadakan pada tanggal..... Perlombaan-perlombaan untuk anak-anak adalah..... Demikianlah kira-kira pemberitahuan yang disampaikan oleh panitia HUT Kemerdekaan RI ke 67, yang kami baca pada selebaran yang dibagikan ke rumah-rumah. Ketika membaca selebaran itu, saya bertanya kepada Kasih apakah dia ingin ikut perlombaan. Kasih langsung mengiyakan, karena dia memang suka mengikuti berbagai kegiatan seperti itu. Tahun lalu dia ikut perlombaan yang aneh, yaitu menjilat permen yang ditempelkan ke mukanya, dan berhasil mendapat hadiah :)).
Perlombaan tahun ini adalah memasukkan pensil ke dalam botol, menangkap belut, dan balap karung, yang dilakukan secara estafet oleh seorang anak. Pensil diikatkan dengan tali ke pinggang anak, lalu dia harus memasukkannya ke dalam botol tanpa memegangnya.
Setelah berhasil memasukkan paku, berlomba makan kerupuk. Seperti biasa, kerupuk digantung dengan tali dan anak harus menghabiskannya tanpa memegangnya.
Selanjutnya, anak itu harus berlari ke sebuah ember yang berisi ikan-ikan belut dan mengambil seekor belut dan memasukkannya ke ember lain di tempat yang sudah disiapkan oleh kakak-kakak panitia. Kejadian yang seru di sini adalah ketika belut yang mereka bawa meluncur dari tangannya dan jatuh ke lantai, dan anak-anak berusaha untuk mengambil kembali belut yang licin itu.
Setelah berhasil memindahkan lima ekor belut, dia harus berlari mengambil karung dan memakai karung itu, kemudian berlari menuju garis finish. Anak yang pertama mencapai garis finish adalah pemenangnya.
Pertandingan berlangsung agak lama karena banyaknya peserta yang ikut. Pemenang pada babak penyisihan harus mengikuti pertandingan yang sama untuk babak semi final, dan anak yang menang pada babak semi final akan diadu lagi untuk pertandingan akhir. Agak membosankan memang, karena pertandingan yang sama harus dilakukan berulang-ulang. Tetapi anak-anak tetap bersemangat melakukannya, terlebih juga karena semua anak mendapat goodie bag, meskipun mereka tidak menang. Pintar sekali panitianya, bukan?
Ternyata ada empat orang anak yang masuk ke final termasuk Kasih. Pada perlombaan terakhir akhirnya Kasih menjadi juara ke tiga. Meskipun lelah, Kasih merasa puas karena bisa menyelesaikan perlombaan dan mendapat hadiah. Siapa bilang anak homeschooling tidak bisa berkompetisi? Saya pikir itu bergantung pada kepribadian tiap anak, karena terbukti Kasih termasuk anak yang suka berkompetisi.
Perlombaan tahun ini adalah memasukkan pensil ke dalam botol, menangkap belut, dan balap karung, yang dilakukan secara estafet oleh seorang anak. Pensil diikatkan dengan tali ke pinggang anak, lalu dia harus memasukkannya ke dalam botol tanpa memegangnya.
![]() |
| Memasukkan paku ke dalam botol |
![]() |
| Lomba makan kerupuk |
Selanjutnya, anak itu harus berlari ke sebuah ember yang berisi ikan-ikan belut dan mengambil seekor belut dan memasukkannya ke ember lain di tempat yang sudah disiapkan oleh kakak-kakak panitia. Kejadian yang seru di sini adalah ketika belut yang mereka bawa meluncur dari tangannya dan jatuh ke lantai, dan anak-anak berusaha untuk mengambil kembali belut yang licin itu.
![]() |
| Menangkap belut yang lepas |
![]() |
| Balap Karung |
Pertandingan berlangsung agak lama karena banyaknya peserta yang ikut. Pemenang pada babak penyisihan harus mengikuti pertandingan yang sama untuk babak semi final, dan anak yang menang pada babak semi final akan diadu lagi untuk pertandingan akhir. Agak membosankan memang, karena pertandingan yang sama harus dilakukan berulang-ulang. Tetapi anak-anak tetap bersemangat melakukannya, terlebih juga karena semua anak mendapat goodie bag, meskipun mereka tidak menang. Pintar sekali panitianya, bukan?
Ternyata ada empat orang anak yang masuk ke final termasuk Kasih. Pada perlombaan terakhir akhirnya Kasih menjadi juara ke tiga. Meskipun lelah, Kasih merasa puas karena bisa menyelesaikan perlombaan dan mendapat hadiah. Siapa bilang anak homeschooling tidak bisa berkompetisi? Saya pikir itu bergantung pada kepribadian tiap anak, karena terbukti Kasih termasuk anak yang suka berkompetisi.
Labels:
17 agustus,
9 tahun,
Aktivitas,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
kemerdekaan
Sunday, June 10, 2012
Angry Bird
Anak-anak sedang demam angry bird. Awalnya saya tidak paham apa itu angry bird, sampai suatu kali mencari game yang cocok di chrome store dan tertarik untuk mengunduh angry bird. Ternyata permainannya cukup seru, yaitu bagaimana kelompok burung yang marah berusaha mengalahkan kelompok babi yang mencuri telur-telur mereka. Dengan menggerakkan ketapel dan mengarahkan ke tempat para babi, kita berusaha menghancurkan mereka dan memperoleh nilai.
Sambil bermain maupun ketika tidak bermain, kami berdiskusi tentang bagaimana memposisikan ketapel, baik arah maupun tarikan, agar bisa tepat mengenai sasaran. Kasih belajar bahwa untuk letak sasaran yang berbeda maka tarikan maupun arah akan berbeda. Sambil bermain bisa belajar tentang fisika juga, ya?
Selain main game, anak-anak juga membaca beberapa komik tentang angry bird di internet, yang menceritakan kisah-kisah angry bird dalam berbagai episode. Tak jarang saya merasa kagum dengan para pembuat angry bird yang bisa membuat kisah yang begitu memukau sehingga anak-anak merasa tertarik untuk membacanya. Kadang-kadang saya meminta mereka untuk menceritakan kisah yang baru mereka baca, ketika kami sedang santai atau dalam perjalanan ke suatu tempat. Meskipun belum bisa membaca, Anugrah bisa menceritakan kisahnya sesuai dengan imajinasinya ;).
Sementara itu, Anugrah yang suka dengan craft mencari banyak pola-pola angry bird di internet untuk kegiatan craft-nya. Pola-pola itu diwarnai, lalu digunting dan direkatkan sehingga menjadi boneka-boneka angry bird. Tak lupa juga dia memintaku membuat boneka angry bird rajutan. Bunda yang malas, hanya bisa membuat satu boneka angry bird kuning, sementara anak-anak sudah membuat banyak boneka angry bird dari kertas. Boneka-boneka angry bird itu juga mereka gunakan untuk bermain 'game' angry bird 3D, yaitu angry bird boneka :)).
Dari satu topik yang disukai, anak-anak bisa belajar banyak hal, mulai dari fisika, bercerita, craft, maupun berimajinasi. Saya pikir banyak hal yang bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan, bahkan dengan demikian mereka lebih ingat dan lebih menyukai pelajaran tersebut, karena diperkenalkan sesuai dengan minat dan pemahaman mereka.
Sambil bermain maupun ketika tidak bermain, kami berdiskusi tentang bagaimana memposisikan ketapel, baik arah maupun tarikan, agar bisa tepat mengenai sasaran. Kasih belajar bahwa untuk letak sasaran yang berbeda maka tarikan maupun arah akan berbeda. Sambil bermain bisa belajar tentang fisika juga, ya?
Selain main game, anak-anak juga membaca beberapa komik tentang angry bird di internet, yang menceritakan kisah-kisah angry bird dalam berbagai episode. Tak jarang saya merasa kagum dengan para pembuat angry bird yang bisa membuat kisah yang begitu memukau sehingga anak-anak merasa tertarik untuk membacanya. Kadang-kadang saya meminta mereka untuk menceritakan kisah yang baru mereka baca, ketika kami sedang santai atau dalam perjalanan ke suatu tempat. Meskipun belum bisa membaca, Anugrah bisa menceritakan kisahnya sesuai dengan imajinasinya ;).
Sementara itu, Anugrah yang suka dengan craft mencari banyak pola-pola angry bird di internet untuk kegiatan craft-nya. Pola-pola itu diwarnai, lalu digunting dan direkatkan sehingga menjadi boneka-boneka angry bird. Tak lupa juga dia memintaku membuat boneka angry bird rajutan. Bunda yang malas, hanya bisa membuat satu boneka angry bird kuning, sementara anak-anak sudah membuat banyak boneka angry bird dari kertas. Boneka-boneka angry bird itu juga mereka gunakan untuk bermain 'game' angry bird 3D, yaitu angry bird boneka :)).
Dari satu topik yang disukai, anak-anak bisa belajar banyak hal, mulai dari fisika, bercerita, craft, maupun berimajinasi. Saya pikir banyak hal yang bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan, bahkan dengan demikian mereka lebih ingat dan lebih menyukai pelajaran tersebut, karena diperkenalkan sesuai dengan minat dan pemahaman mereka.
![]() |
| Angry Bird Rajutan dan Craft Gunting-Tempel |
Labels:
10 tahun,
6 tahun,
Aktivitas,
angry birds,
Anugrah,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih
Monday, May 7, 2012
Bouncing Bubble
Gelembung yang tahan lama dan tidak gampang pecah? Bisa dibuat dengan resep berikut:
1 cup air bersih (distilled water preferred)
2 tbsp sabun cuci piring
1 tbsp gliserin (bisa dibeli di toko bahan kimia)
sarung tangan
semua bahan dicampur rata lalu didiamkan minimal 24 jam.
Hasilnya, gelembung bisa dijadikan mainan seperti dalam video ini.. selamat mencoba!
1 cup air bersih (distilled water preferred)
2 tbsp sabun cuci piring
1 tbsp gliserin (bisa dibeli di toko bahan kimia)
sarung tangan
semua bahan dicampur rata lalu didiamkan minimal 24 jam.
Hasilnya, gelembung bisa dijadikan mainan seperti dalam video ini.. selamat mencoba!
Labels:
9 tahun,
bubble,
eksperimen,
gelembung,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
percobaan,
sains,
video
Wednesday, March 21, 2012
Mengapa Lilinnya Mati?
Percobaan dengan lilin ini pasti disukai oleh anak-anak, karena mereka biasanya selalu memperhatikan bagaimana lilin bisa menyala, dan apa yang terjadi jika lilin tersebut diperlakukan sedemikian rupa.
Bahan dan alat yang digunakan:
- empat batang lilin
- korek api
- air
- pewarna
- piring
- gelas bening
- karet gelang
Cara melakukan percobaan:
- tuang air ke atas piring dan tetesi dengan pewarna
- nyalakan sebatang lilin lalu tegakkan perlahan-lahan di atas piring yang berisi air
- ambil gelas dan tutup lilin dengan gelas hingga mulut gelas menempel ke dasar piring, perhatikan bahwa lilin akan padam dan air di piring akan naik ke dalam gelas.
- beri tanda untuk mengetahui tinggi air yang naik pada gelas dengan menggunakan karet gelang.
- ulangi percobaan dengan menggunakan jumlah lilin yang berbeda.
Di sini kami melihat bahwa semakin banyak lilin yang digunakan, maka semakin cepat lilin padam ketika ditutup dengan gelas dan level air yang ada di dalam gelas juga semakin tinggi. Juga ada gas/uap yang keluar dari lilin ketika lilin dibakar.
Bahan dan alat yang digunakan:
- empat batang lilin
- korek api
- air
- pewarna
- piring
- gelas bening
- karet gelang
Cara melakukan percobaan:
- tuang air ke atas piring dan tetesi dengan pewarna
- nyalakan sebatang lilin lalu tegakkan perlahan-lahan di atas piring yang berisi air
- ambil gelas dan tutup lilin dengan gelas hingga mulut gelas menempel ke dasar piring, perhatikan bahwa lilin akan padam dan air di piring akan naik ke dalam gelas.
- beri tanda untuk mengetahui tinggi air yang naik pada gelas dengan menggunakan karet gelang.
- ulangi percobaan dengan menggunakan jumlah lilin yang berbeda.
Di sini kami melihat bahwa semakin banyak lilin yang digunakan, maka semakin cepat lilin padam ketika ditutup dengan gelas dan level air yang ada di dalam gelas juga semakin tinggi. Juga ada gas/uap yang keluar dari lilin ketika lilin dibakar.
Labels:
5 tahun,
9 tahun,
Anugrah,
eksperimen,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
lilin,
percobaan,
sains
Monday, February 27, 2012
Kesetimbangan
Bisakah kamu membuat sebutir telur berdiri di atas meja? Atau bisakah botol berdiri di atas meja dalam posisi miring?
Kasih mencoba melakukan ini dengan menebarkan sedikit garam di atas meja, lalu dengan konsentrasi penuh menegakkan sebutir telur mainan di atasnya. Setelah mencoba berkali-kali akhirnya telur bisa berdiri. Selain itu Kasih juga mencoba dengan botol dan batere, dengan mencoba membuat botol dan batere berdiri dalam posisi miring.
Agar kelihatan lebih 'hebat', setelah telur dan botol itu bisa 'berdiri', tiuplah sisa-sisa garam di sekeliling botol dan telur sehingga teman-temanmu tidak bisa melihatnya dan mereka takjub karena kamu bisa membuat sebuah pertunjukan sulap yang hebat! :)
Kasih mencoba melakukan ini dengan menebarkan sedikit garam di atas meja, lalu dengan konsentrasi penuh menegakkan sebutir telur mainan di atasnya. Setelah mencoba berkali-kali akhirnya telur bisa berdiri. Selain itu Kasih juga mencoba dengan botol dan batere, dengan mencoba membuat botol dan batere berdiri dalam posisi miring.
Agar kelihatan lebih 'hebat', setelah telur dan botol itu bisa 'berdiri', tiuplah sisa-sisa garam di sekeliling botol dan telur sehingga teman-temanmu tidak bisa melihatnya dan mereka takjub karena kamu bisa membuat sebuah pertunjukan sulap yang hebat! :)
![]() |
| Telur bisa berdiri di atas meja |
![]() |
| Batere berdiri dalam posisi miring |
![]() |
| Botol pun bisa berdiri dalam posisi miring :) |
Labels:
9 tahun,
Aktivitas,
eksperimen,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
kesetimbangan,
percobaan
Saturday, February 25, 2012
Pentas Tari Bali
Kasih belajar Tari Bali di Sanggar Tari Bali Natya Nataraja Bandung. Beberapa hari yang lalu Kelompok Maha Gotra Ganesha ITB mengadakan Pentas Tari Bali X, dan Kasih bersama tiga orang temannya mempertunjukkan tarian Manuk Rawa. Tarian ini mengisahkan tentang burung-burung air yang bermain bersama teman-temannya.
Semoga bisa dinikmati... :)
Semoga bisa dinikmati... :)
Labels:
9 tahun,
Aktivitas,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
tari bali
Tuesday, February 14, 2012
Mengamati Perkembangan Nyamuk
Anak-anak mengamati di bak kamar mandi sering ada binatang kecil yang mengambang. Kata bunda itu jentik-jentik nyamuk. Mereka mengambil jentik-jentik itu dan memasukkannya ke dalam stoples untuk diamati.
Awalnya sebagian jentik-jentik yang mengambang di air berubah ukuran menjadi lebih kecil, namanya kepompong/pupa.
Selanjutnya kempompong atau pupa berubah menjadi nyamuk.
Pengamatan selama beberapa hari menyimpulkan bahwa terjadi tahapan dalam kehidupan nyamuk, mulai dari jentik-jentik => kepompong => nyamuk. Sebenarnya ada tahapan lain sebelum menjadi jentik-jentik, yaitu telur, tetapi karena telur nyamuk sukar untuk diamati, maka tahapan tersebut tidak ditulis di sini.
![]() |
| Jentik-jentik |
![]() |
| Sebagian jentik-jentik berubah menjadi pupa/kepompong |
![]() |
| Pupa berubah menjadi nyamuk |
Kami juga merekam ketika jentik2 berenang di dalam air, semoga bisa dinikmati... :)
Labels:
5 tahun,
9 tahun,
Anugrah,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
sains
Tuesday, January 31, 2012
Minuet in G
Kasih memainkan Minuet in G pada kompetisi pianis muda di CCF Bandung, Desember 2011
Monday, December 19, 2011
Afterimage
Cobalah membuat sebuah gambar berwarna atau menggunting sebuah gambar dari majalah atau surat kabar. Tataplah gambar itu selama kurang lebih 30-40 detik. Setelah itu segera alihkan pandangan ke dinding yang polos. Apa yang kamu lihat di sana?
Kasih mencoba melakukannya dengan beberapa gambar, dan hasilnya, ada bayangan negatif dari gambar tersebut ketika dia mengalihkan pandangannya.
Kasih mencoba melakukannya dengan beberapa gambar, dan hasilnya, ada bayangan negatif dari gambar tersebut ketika dia mengalihkan pandangannya.
![]() |
| Coba tatap gambar Bendera Amerika selama 30-40 detik, bagaimana afterimage-nya? |
![]() |
| Afterimage Negatif dari gambar Bendera Amerika yang terlihat oleh Kasih |
Afterimage adalah ilusi optis (gambaran yang masih terlihat oleh mata kita) ketika kita berhenti memandang suatu gambar yang telah dilihat beberapa waktu lamanya. Cahaya yang masuk ke mata kita menghasilkan perubahan kimia di dalam retina, dan membuat kita bisa melihat. Stimulasi terhadap gambar yang cerah dalam waktu yang lama akan mengurangi kepekaan bagian tertentu dari retina. Ketika mata kita beralih pada dinding yang putih, cahaya yang dipantulkan oleh dinding akan masuk ke dalam retina. Bagian retina yang telah berkurang kepekaannya tersebut tidak merespon cahaya yang diterima dari dinding tersebut sebaik bagian lain dari retina, sehingga terlihat sebagai 'afterimage negatif' dari gambar yang terlihat sebelumnya. (Sumber: http://bit.ly/yCrkGy).
![]() |
| Lingkaran berbagai warna, bagaimana afterimage-nya? |
Labels:
9 tahun,
afterimage,
homeeducation,
Homeschool,
Kasih,
sains,
science
Sunday, December 18, 2011
Belajar Hukum Newton Pertama
"Bunda, kenapa kalau mobil tiba-tiba berhenti, aku merasa didorong ke depan, dan kalau mobil maju, aku merasa bergerak ke belakang?" tanya Kasih ketika kami sedang berada di perjalanan.
Ayah menjawab, "Itu namanya hukum kelembaman, Kasih." Saya mencoba menjelaskan, "Iya, setiap benda yang diam akan tetap berada dalam posisi diam sampai diberikan gangguan dari luar. Dan setiap benda yang bergerak lurus akan tetap bergerak lurus selama tidak ada gangguan dari luar." Kelihatannya dia bingung dengan penjelasan kami. Lalu dia berkata, "Aku mau mencoba mempertahankan posisiku (berusaha melawan hukum kelembaman)." Dia berusaha bertahan ketika mobil berhenti, dan ternyata sulit sekali. Demikian juga ketika mobil maju, ternyata dia tetap bergerak ke belakang, walaupun sedikit.
Malamnya, sambil membaca buku, kami menonton beberapa eksperimen di youtube, yang membuktikan bahwa hukum kelembaman itu memang benar. Lalu Kasih mencoba melemparkan selembar kertas ke depannya. "Aku ngerti sekarang, kalau kita melempar sebuah benda, benda itu akan tetap bergerak lurus, tapi karena ada gaya gravitasi, dia berbelok ke bawah," kata Kasih. Wah, ternyata dia malah menjelaskan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh saya.
Sumber gambar: di sini
Ayah menjawab, "Itu namanya hukum kelembaman, Kasih." Saya mencoba menjelaskan, "Iya, setiap benda yang diam akan tetap berada dalam posisi diam sampai diberikan gangguan dari luar. Dan setiap benda yang bergerak lurus akan tetap bergerak lurus selama tidak ada gangguan dari luar." Kelihatannya dia bingung dengan penjelasan kami. Lalu dia berkata, "Aku mau mencoba mempertahankan posisiku (berusaha melawan hukum kelembaman)." Dia berusaha bertahan ketika mobil berhenti, dan ternyata sulit sekali. Demikian juga ketika mobil maju, ternyata dia tetap bergerak ke belakang, walaupun sedikit.
Malamnya, sambil membaca buku, kami menonton beberapa eksperimen di youtube, yang membuktikan bahwa hukum kelembaman itu memang benar. Lalu Kasih mencoba melemparkan selembar kertas ke depannya. "Aku ngerti sekarang, kalau kita melempar sebuah benda, benda itu akan tetap bergerak lurus, tapi karena ada gaya gravitasi, dia berbelok ke bawah," kata Kasih. Wah, ternyata dia malah menjelaskan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh saya.
Sumber gambar: di sini
Labels:
9 tahun,
belajar mandiri,
eksperimen,
homeeducation,
Homeschool,
hukum Newton,
Kasih,
sains,
science
Subscribe to:
Posts (Atom)




























