Showing posts with label 4 tahun. Show all posts
Showing posts with label 4 tahun. Show all posts

Thursday, November 10, 2011

Guinea Pig/Tikus Belanda/Marmut

Awal bulan Oktober yang lalu, Kasih dan Anugrah mendapat hadiah sepasang Guinea Pig (Ind: Tikus Belanda/Marmut) dari seorang teman. Mereka sangat senang, dan memberi nama Bell U untuk yang jantan dan Marmer untuk yang betina.


Kami banyak belajar tentang Guinea Pig selama memelihara Bell U dan Marmer. Kasih mulai mencari di internet tentang taksonomi/klasifikasi hewan untuk Guinea Pig. Selama ini kami menyebut binatang itu marmut, tetapi ternyata guinea pig berbeda dengan marmut/marmota. Keduanya termasuk  order Rodentia, tetapi Guinea pig merupakan family/keluarga Caviidae, sedangkan Marmota merupakan keluarga Sciuridae. Nama latin guinea pig adalah Cavia porcellus. Tetapi kami tetap menyebutnya marmut, mengikuti nama yang umum dipakai di Indonesia.

Selain belajar tentang taksonomi, kami juga belajar tentang jenis kelamin guinea pig. Guinea pig jantan memiliki penis yang dapat dilihat ketika kita menekan perutnya, pada betina akan terlihat lubang kelamin dan dua puting susu. Ketika marmut betina mengandung, Kasih belajar mengamati perubahan fisiknya. Terlihat perutnya membesar dan bentuk tubuhnya berbeda dengan marmut yang jantan.

Marmut jantan / male guinea pig

Marmut betina/ female guinea pig

Pada hari ke-31 kedua marmut berada di rumah kami, tepatnya pada tanggal 5 November 2011, Marmer melahirkan anak-anaknya. Pada awalnya kami tidak memperhatikan adanya kejanggalan, tetapi seharian kedua marmut ribut meskipun sudah diberi makan. Ketika Kasih menengok ke tempat marmut berada, ternyata seekor bayi marmut telah lahir. Selang beberapa menit kemudian lahirlah bayi kedua. Sang induk menjilati anak-anaknya untuk membersihkan bulu-bulu mereka yang basah. Setelah itu kami melihat kejadian yang langka, induk marmut memakan plasentanya sendiri!

Kasih juga belajar bertanggung jawab dengan memberi makan marmut-marmutnya setiap hari, bahkan dia rela mencari rumput-rumput untuk makanan mereka. Suara-suara mereka pun ditirukannya, sehingga kadang-kadang saya terkecoh :).




Friday, September 30, 2011

Mengunjungi Tempat Pembuatan Tempe


Di dekat rumah kakek di Medan ternyata ada tempat pembuatan tempe. Saat liburan Kasih dan Anugrah mengunjungi tempat itu dan melihat-lihat proses pembuatan tempe di sana.

Di tempat pembuatan tempe itu ada beberapa orang karyawan yang sedang bekerja. Beruntungnya, ada seorang bapak pekerja di sana yang baik bersedia menceritakan kepada kami proses pembuatan tempe dari awal sampai selesai.

Bapak itu bercerita bahwa tempe dibuat dari kacang kedelai yang mengalami proses fermentasi dengan bantuan bakteri/ragi. Proses pembuatan tempe dimulai dengan perendaman kedelai dan pengupasan kulit ari dengan alat pengupas. Setelah dikupas, kedelai direbus sampai mendidih, lalu airnya disaring. Setelah disaring, kedelai disiram lagi dengan air panas, lalu dibiarkan selama satu malam. Keesokan harinya, kedelai dicampur dengan ragi/bakteri pembuat tempe, lalu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik dan disimpan pada suhu ruangan. Proses fermentasi kedelai menjadi tempe berlangsung selama satu hari, setelah itu tempe siap dikirim kepada konsumen maupun pedagang eceran.

Terbersit keinginan di hati bunda untuk mengajak anak-anak belajar membuat tempe sendiri. Meski demikian, bunda tidak memaksakan keinginan tersebut kepada Kasih. Nanti pada waktunya kami akan membuatnya, ketika semuanya sudah siap, baik bahan-bahan maupun keinginan belajar Kasih.

Thursday, September 8, 2011

Tantangan 30 Hari dari Klub Oase (Sudah Selesai)

Tantangan Klub Oase untuk mendokumentasikan kegiatan anak-anak selama 30 hari sudah berakhir.

Mengapa saya tertarik mengikuti kegiatan ini? Karena menurut saya kegiatan ini menolong saya untuk membuat portofolio kegiatan homeschooling anak-anak kami, sekaligus belajar membuat scrapbook / kolase sederhana.

Beberapa momen yang berkesan ketika kami mengikuti kegiatan ini adalah:
- Ketika berusaha mencari kegiatan yang 'menantang' bagi anak-anak setiap hari
- Ketika melihat kemajuan dalam kemampuan/pengetahuan anak-anak yang sebelumnya tidak terlalu kami perhatikan (salah satunya ketika mengetahui Anugrah sudah bisa mengancingkan dan membuka kancing bajunya)
- Selain itu kami banyak mendapat inspirasi dari kegiatan teman-teman lain dan dari kolase foto2 mereka

Kami juga menghadapi hambatan ketika mengikuti kegiatan ini, antara lain ketika kegiatan-kegiatan anak-anak mungkin tidak terlalu bervariasi pada hari-hari tertentu (kegiatan yang dilakukan berulang-ulang) sehingga mengurangi motivasi untuk mendokumentasikan. Untuk itu kami berusaha mencari aktivitas yang lebih inovatif dan menantang anak-anak untuk melakukan sesuatu yang baru. Selain itu ada juga kesibukan lain yang membuat kegiatan mendokumentasikan tertunda sehingga harus di'rapel'.

Anugrah biasanya tidak terlalu peduli dan lebih spontan dalam melakukan sesuatu, sehingga banyak momen yang kami dokumentasikan adalah hasil kegiatan spontan dan kemajuan yang terlihat dari dirinya. Sementara Kasih tahu bahwa kegiatannya akan didokumentasikan dan di'tampil'kan di wall fb ibunya. Hal ini memotivasinya untuk mencari kegiatan yang menarik.

Manfaat bagi saya sendiri adalah, saya belajar membuat kolase / scrapbook dengan software-software gratis (terima kasih ya.. :)), dan teman/kontak saya di fb jadi bertambah ;). Selain itu, meskipun sehari-hari kami selalu melakukan kegiatan bersama, tetapi dengan adanya tantangan ini kami menjadi lebih kompak :D dan portofolio kegiatan anak-anak jadi lebih lengkap dibandingkan ketika tidak ada tantangan

Saya berusaha menyelesaikan tantangan ini karena saya berprinsip, jika saya berani menerima sebuah tantangan, berarti saya harus menyelesaikannya sampai akhir :). Walaupun ini sebuah tantangan yang cukup berat dan kadang-kadang saya juga merasa bosan, tapi saya berusaha melihatnya sebagai kegiatan 'bersenang-senang bersama keluarga' yang dilakukan secara wajar, yang didokumentasikan dan akan menjadi kenangan yang manis bagi semua orang.

Saya berterima kasih kepada pengurus klub Oase atas tantangan 30 hari ini, karena saya jadi belajar mendokumentasikan kegiatan-kegiatan anak-anak kami selama 30 hari. Tak lupa mohon maaf jika ada posting dan komentar saya yang kurang berkenan di hati teman-teman lain. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang lain, dengan kegiatan-kegiatan mereka yang menginspirasi kami. Semuanya bagus!

Berikut sertifikat dari Klub Oase atas keberhasilan kami menyelesaikan tantangan 30 hari tersebut. Kereen...! Terima kasih :)

Monday, August 15, 2011

Membuat Tempat Makanan Burung (Daur Ulang Karton Bekas Susu)


Karton bekas susu merupakan salah satu limbah (baca: sampah) yang banyak dihasilkan di rumah tangga, yang mengkonsumsi susu cair. Karton bekas susu termasuk kategori sampah yang bisa di-recycle (daur ulang), tetapi saya belum mendengar pemerintah kita sudah melakukannya sampai saat ini.

Karton bekas susu bisa dimanfaatkan lagi (dari pada dibuang dan jadi limbah) menjadi berbagai macam barang yang berguna. Salah satunya adalah membuat tempat makan burung. Caranya:
1. Potong kotak bekas susu (ukuran 1 liter) setinggi kurang lebih 10 sentimeter dari dasar karton.
2. Potong bagian rusuknya sepanjang kurang lebih 5 (lima) sentimeter dan lipat keluar
3. Buat lubang di kedua belah sisi yang tidak terlipat dan masukkan ranting kayu untuk tempat burung bertengger
4. Buat lubang di ke-empat sisi untuk tali penggantung
5. Jika perlu, buat penutup/atap dari karton/kardus bekas yang dipotong segi empat dan ikatkan ujung-ujung tali penggantung pada keempat sisinya.
6. Isi karton dengan makanan burung
7. Gantung di atas pohon yang sering didatangi oleh burung-burung.

Kegiatan membuat tempat makan burung bisa menjadi aktivitas yang menarik untuk anak-anak, sekaligus mengajar mereka untuk mencintai makhluk ciptaan Tuhan.

Wednesday, August 10, 2011

Membuat Kue Putri Salju


Anak-anak suka membuat kue, karena kegiatan itu membuat mereka sibuk, mulai dari mempersiapkan bahan, mencampur adonan, mencetak, sampai menyajikan.

Kue putri salju adalah salah satu makanan favorit anak-anak. Mungkin karena ada taburan gula halus yang terasa manis di lidah, atau karena teksturnya yang renyah. Apa pun alasannya, mereka ingin membuat kue itu kali ini.

Bahan-bahannya juga mudah didapat, yaitu :
Margarin 200 gram
Tepung terigu 200 gram
Gula pasir 50 gram
Kuning telur 1 butir
Gula halus untuk taburan
Kacang tanah kupas 100 gram, dihaluskan

Cara membuatnya:
- Kocok margarin dengan gula pasir
- Masukkan kuning telur, kacang tanah, dan tepung terigu sambil diaduk rata.
- Uleni adonan sampai merata, lalu bulatkan.
- Dinginkan adonan di dalam lemari es selama kurang lebih 30 menit
- Cetak sesuai dengan bentuk yang disukai
- Panggang di dalam oven hingga berwarna kuning kecoklatan
- Taburi gula halus sampai permukaan kue menjadi putih
- Kue siap dihidangkan!

Monday, August 1, 2011

Belajar Menulis Angka


Anugrah sekarang berusia 4 tahun 8 bulan. Dia suka bermain, belajar sambil bermain, dan melakukan aktivitas yang disukainya sepanjang hari, yaitu bermain, hehehe...

Tidak seperti anak-anak lain seusianya, sampai saat ini kami belum mengajarkan membaca dan menulis secara intensif. Belajar dilakukan sambil bermain, pada saat dia tertarik, tetapi tidak dipaksakan.

Hari itu Anugrah melihat sebuah easel board (papan tulis yang dapat dihapus dengan cara menarik sebuah alat di bagian bawah papan) kepunyaan sepupunya. Dia melihat alat tersebut bisa ditulisi dan dihapus dengan mudah. Anugrah mencobanya dengan menuliskan angka-angka di papan tersebut, dan dia mencoba menulis angka nol sampai lima. Beberapa kali saya melihat dia menghapusnya, karena ada sedikit kesalahan penulisan. Saya melihat bahwa dia termasuk anak yang perfeksionis, sehingga sedikit kesalahan membuatnya harus mengulang dari awal.

Menarik kesimpulan dari pengamatan itu, akhirnya kami memutuskan untuk tidak membelikan easel board, agar dia belajar untuk percaya diri tanpa harus mengulang-ulang pekerjaannya, walaupun tidak sempurna. Mudah-mudahan keputusan ini yang terbaik buatnya.

Friday, July 15, 2011

Bayanganku Terbalik? (Belajar di Meja Makan)

Belajar di meja makan kali ini adalah tentang cermin. Secara tidak sengaja, Kasih bercermin pada bagian cekung sendok stainless steel yang dipakainya untuk makan, lalu dia berseru, "Bunda, bayanganku terbalik." Lalu dia bercermin pada bagian belakang sendok, dan ternyata bayangannya tidak terbalik. Anugrah juga mencobanya, dan ternyata hasilnya sama :)).

Belajar tidak hanya ketika duduk di bangku sekolah, di mana saja kita bisa belajar, demikian juga anak-anak. Belajar tidak harus membaca dan menghafal buku teks, tetapi bisa dilakukan dengan fun dan tetap melekat di pikiran anak-anak.

Friday, July 8, 2011

Membuat Play Dough






"Bunda, bikinkan play dough," pinta Anugrah suatu hari. Beberapa waktu yang lalu Anugrah diajak temannya bermain dengan lilin mainan (malam) yang bisa dibuat berbagai macam bentuk. Sebenarnya kami sudah sering membuat play dough, tetapi play dough tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi karena kering. Karenanya hari itu kami membuatnya lagi.

Resep play dough yang kami buat adalah:
- Tepung terigu (protein tinggi) 1 cup
- Garam 1/2 cup
- Air 1 cup
- Minyak goreng 1 tbsp
- Cream of Tartar 1/2 tbsp (optional)
- Pewarna makanan secukupnya

Cara membuat:
1. Campur tepung terigu, garam, minyak goreng, dan cream of tartar.
2. Masukkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata.
3. Masak adonan di atas api kecil sambil diaduk sampai berubah menjadi seperti adonan donat.
4. Angkat adonan dan bagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan jumlah pewarna yang ingin ditambahkan.
5. Campur pewarna ke dalam salah satu adonan dan uleni dengan tangan sampai kalis (tidak lengket di tangan). Lakukan hal yang sama dengan adonan yang lain, dengan warna yang berbeda-beda.
6. Play dough siap dipakai :)
7. Simpan di wadah yang kedap udara. Play dough ini akan tahan selama beberapa bulan.

Friday, June 10, 2011

Membuat Indikator pH Alami dan Percobaan Asam Basa





Indikator pH bisa dibuat dari bahan alami, yaitu kol merah/ungu. Caranya: kol merah/ungu direbus dalam air sampai warna air berubah menjadi ungu. Setelah dingin, air hasil rebusan dapat digunakan untuk menentukan sifat asam-basa suatu bahan.

Bahan-bahan yang akan diperiksa adalah bahan-bahan yang bisa didapat di rumah, di antaranya cuka, sabun cair, kecap, saus tomat, air minum, dan lain-lain.

Siapkan bahan-bahan di atas di dalam wadah apa saja, asal mudah dilihat perubahan warnanya. Tuangkan sedikit air rebusan kol ungu, dan perhatikan perubahan warna yang terjadi.

Jika warna cairan berubah menjadi merah, oranye, pink, atau coklat, maka bahan-bahan yang diperiksa itu bersifat asam, sedangkan ketika warna berubah menjadi hijau, maka bahan-bahan itu bersifat basa. Kalau warna cairan tidak berubah (ungu), maka larutan itu bersifat netral.

Referensi: klik di sini

Sunday, May 29, 2011

Dikenang Sebagai Orang Yang Bagaimana?

Biasanya anak-anak minta dibacakan buku menjelang mereka tidur. Kali ini kami membaca kitab suci yang menceritakan tentang seorang perempuan yang meminyaki kaki Yesus (Isa) dengan minyak narwastu yang wangi dan mahal, ketika dia makan bersama di rumah Simon si kusta. Pada akhir cerita itu dikatakan oleh Isa bahwa di mana pun Injil diberitakan, maka kisah tentang perempuan ini akan diceritakan juga untuk mengingatnya.

Selesai bercerita, saya bertanya, "Kalau Kasih nanti sudah tidak ada, Kasih ingin dikenang orang-orang sebagai orang yang bagaimana? Sebagai orang yang hebat, yang baik, atau yang mengasihi Tuhan?" Kasih tidak menjawab, tetapi saya berharap di dalam hatinya dia memikirkan hal itu. Bagian orang tua adalah menabur dan berdoa agar Tuhan menjaga anak-anak supaya terus berada di jalan yang telah disiapkan oleh-Nya bagi mereka..


sumber gambar :http://tiny.cc/x0a9m

Thursday, March 31, 2011

Membuat Kertas Daur Ulang


Kertas-kertas bekas merupakan barang yang tidak asing di rumah kami. Berhubung anak-anak belajar di rumah, kami banyak sekali menggunakan kertas untuk berbagai aktivitas, mulai dari menggambar, membuat kerajinan tangan, sampai mem-print lembar kerja anak-anak. Tak heran begitu banyak kertas tersimpan di rumah. Kalau ada kertas yang sudah tidak digunakan, biasanya kami langsung membuangnya ke tempat sampah sebelum menggunung di rumah.

Sebenarnya sudah ada keinginan untuk mendaur ulang kertas itu, tetapi peralatannya belum ada pada waktu itu (sebenarnya sederhana sekali, tapi memang karena ;kemalasan' akhirnya keinginan tertunda sangat lama).

Setelah ada tekad yang kuat, barulah saya mengajak anak-anak untuk membuat kertas daur ulang. Dimulai dengan melihat-lihat internet dan menemukan beberapa situs dan video yang menarik tentang daur ulang. Selanjutnya mempersiapkan alat-alat, dan mulai melakukan.

Alat-alat yang dibutuhkan adalah:
1. Blender
2. Penyaring dari kayu berbentuk segi empat dan di bagian bawahnya ditempelkan kain berlubang(bisa dibuat di tukang kayu)
3. Kontainer yang cukup besar
4. Sendok kayu
5. Papan tempat meletakkan dan menjemur kertas daur ulang

Bahan-bahan:
1. Kertas bekas
2. Air
3. Bunga-bunga dan daun-daunan yang bisa didapat di sekitar rumah
4. Tepung maizena (tidak wajib)

Cara kerja:
1. Kertas disobek-sobek dan dimasukkan ke dalam blender (tambahkan bunga-bunga dan daun-daunan jika mau)
2. Air dituangkan ke dalam blender
3. Tutup blender dan nyalakan selama beberapa saat, sampai terbentuk bubur kertas
4. Letakkan penyaring kayu di dalam kontainer
5. Tuangkan bubur kertas ke atas penyaring dan ratakan dan padatkan dengan sendok kayu.
6. Balikkan penyaring dan keluarkan bubur kertas yang sudah padat dengan bantuan papan
7. Jemur/angin-anginkan kertas sampai kering
8. Kertas siap digunakan kembali

Awalnya memang hasilnya tidak terlalu bagus, dibutuhkan latihan beberapa kali sampai diperoleh hasil yang cukup memuaskan.

Thursday, February 10, 2011

Percobaan Telur (Eggsperiment)

Percobaan ini diinspirasi dari link Klub Oase yang melakukan eksperimen tentang bagaimana keadaan telur di air tawar dan air asin. Kali ini Kasih dan Anugrah mencoba melakukan eksperimen itu dengan sedikit modifikasi.

Alat:
- 6 buah gelas transparan berisi air setengah penuh
- sendok plastik

Bahan:
- Dua butir telur, satu butir mentah dan satu butir direbus hingga matang.
- Garam dapur

Cara:
1. Tuangkan garam ke dalam gelas berisi air dengan jumlah yang berbeda-beda, contoh:
Gelas pertama tidak diisi garam, gelas kedua diisi satu sendok, gelas ketiga diisi dua sendok, dan seterusnya.
2. Masukkan telur secara berurutan ke dalam masing-masing gelas, bisa dimulai dari telur matang atau telur mentah (yang mana saja)
3. Amati peristiwa yang terjadi

Beberapa foto hasil pengamatan:







Ternyata kadar garam mempengaruhi kemampuan air untuk membuat sebuah benda yang sama terapung, dan jenis (berat jenis?) benda yang berbeda juga memberi pengaruh pada kemampuan benda tersebut terapung. Mungkin kesimpulan ini salah? Ada yang bisa memberi penjelasan yang lebih lengkap?

Saturday, January 22, 2011

Bagaimana Mengeluarkan Kertas Dari Botol Tanpa Menyentuhnya?

Permainan ini bisa menjadi ice breaker dalam pertemuan anak-anak, karena seru dan membuat anak-anak ingin mencobanya terus-menerus. Alatnya hanya sebuah botol dan selembar kertas/tissue.

Remas-remas selembar kertas menjadi seperti kelereng dengan ukuran lebih kecil dari leher botol yang digunakan. Letakkan botol di atas meja dalam posisi berbaring, lalu taruh kertas yang sudah berbentuk kelereng di dalam leher botol (pada jarak kurang lebih 1cm dari mulut botol). Minta anak-anak untuk mengeluarkan kertas dari dalam botol tanpa menyentuhnya dengan tangan/jari atau benda apa pun.

Mau tau caranya: silakan dilihat video ini.

Saturday, January 8, 2011

Anugrah dan Kendaraan Besar

Ada seorang anak laki-laki berusia empat tahun, namanya Anugrah. Dia senang sekali dengan berbagai jenis kendaraan besar, mulai dari truk, kereta api, sampai kendaraan lapis baja. Jika diamati, kebanyakan anak laki-laki seusia Anugrah memang sangat menggemari kendaraan seperti itu. Beberapa orang teman bercerita bahwa ada beberapa anak laki-laki mereka, ketika seusia Anugrah suka mengoleksi mainan kendaraan besar.

Setiap kali bertemu dengan kendaraan besar yang tidak biasa, biasanya Anugrah mengajak kami untuk mendekatinya. Dia memang tidak langsung mau naik ke atas kendaraan itu, sekalipun pengendaranya mengajak dengan ramah. Ketika kami menyetujui dan mendorongnya, barulah dia berani naik ke atasnya. Kelihatan sekali bahwa dia merasa senang dan bangga dapat naik ke atas kendaraan itu.

Berikut beberapa foto yang terambil ketika Anugrah sedang naik kendaraan besar, yaitu kendaraan pengeras jalan, truk pemadam kebakaran, dan kendaraan lapis baja.



Tuesday, November 16, 2010

Anugrah dan Konsep Matematika


Belajar matematika dengan Anugrah selalu kami lakukan sambil bermain, sebagaimana juga dengan Kasih. Salah satunya, ketika memperkenalkan urutan angka satu sampai sepuluh kepadanya, saya mengajaknya menghitung ketika menaiki anak tangga. Setelah dia mengetahui urutan angka, saya mengajaknya menghitung jumlah anggota badannya, seperti mata, telinga, dan sebagainya. Ketika sedang bermain, kadang-kadang saya mengajaknya menghitung jumlah mobil-mobilannya.

Setelah mengetahui urutan angka secara lisan, Anugrah mulai belajar mengenal angka berbentuk tulisan, yaitu 0, 1, 2, 3, dan seterusnya.

Selanjutnya, kami mengajaknya belajar tentang penjumlahan. Tentu saja sambil bermain dan bersenang-senang. Anugrah senang sekali melihat berbagai jenis truk ketika berkendaraan di jalan. Ketika melihat sebuah truk pengangkut semen, saya bertanya kepadanya, "Berapa jumlah roda truk molen (pengangkut semen)?" Dia mencoba menghitung dan menyebutkan jumlah roda di salah satu sisinya. Lalu saya bilang, "Masih ada di sebelah sananya, kan?", dan dia menghitung jumlah yang sama pada sisi yang lainnya. Lalu kami mengajaknya menjumlahkan roda kiri dan kanan kendaraan itu. Tentu saja masih sering salah, karena jumlah roda truk mungkin lebih banyak daripada yang dihitungnya. :))

Belajar pengurangan saya lakukan dengan bertanya kepadanya, "Kalau Nugrah punya empat buah permen, lalu dimakan satu, berapa permen yang masih tersisa?" sambil mengajaknya menghitung dengan jari. Setelah menghitung, dia menjawab, "tiga." "Hebat!" kata saya sambil memeluknya.

Beberapa waktu yang lalu saya iseng bertanya, "Nug, kalau bunda punya empat kue, mau dibagi dua untuk kakak dan untuk Nugrah, berapa kue buat kakak dan berapa kue buat Nugrah?" Dia berpikir sebentar, lalu menjawab, "Buat Nugrah dua, buat kakak dua, eh bukan, buat Nugrah tiga, buat kakak satu" sambil tersenyum iseng. "He he he, memangnya Nugrah suka kue?" tanyaku sambil tertawa. "Suka kalau kue ulang tahun" katanya tak mau kalah.

Sambil bermain dan bergembira, anak-anak ternyata bisa diajak belajar tentang konsep matematika sederhana. Tentu saja bukan kita yang hebat, melainkan Pencipta kita yang mengaruniakan otak yang sedemikian rupa, sehingga banyak hal yang bisa diserap dan dipahami oleh seorang anak pada usia belia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...