Showing posts with label Anugrah. Show all posts
Showing posts with label Anugrah. Show all posts

Monday, June 3, 2013

Anugrah Belajar Membaca

"Sini, Nug, kita belajar (membaca)," kata saya sambil mengambil sebuah buku pelajaran membaca. Anugrah, yang sedang bermain, datang mendekat. Dia melihat-lihat buku itu lalu berkata, "Nggak, ah!", sambil kembali ke permainannya. Kejadian itu kurang lebih satu tahun yang lalu, ketika Anugrah berusia lima tahun.

Kenapa saya berusaha mengajaknya belajar membaca? Salah satu alasan utama adalah karena kakaknya, Kasih, sudah bisa membaca pada umur tiga tahun. Mestinya dia juga sudah bisa, begitu menurut pikiran saya. Tapi ternyata dia bahkan tidak mau menyentuh buku itu.

Awalnya saya tidak memaksa untuk belajar membaca, tapi lama-lama khawatir juga. Kapan ni anak bisa membaca? Ibunya harus belajar sabar menunggu waktu anaknya tiba nih... heuheuheu..

Kalau mengenal huruf, dia sudah lama bisa, tapi mengeja, masih suka salah. Tiap hari masih minta dibacakan buku cerita, tapi tidak mau kalau disuruh belajar membaca.

Sampai suatu kali, setelah usianya enam tahun, dia mulai membuka sebuah buku dan mengeja. Buku yang mana? Ya, buku pelajaran membaca itu! Dia mengeja b-a 'ba', c-a 'ca', d-a 'da', dan seterusnya. Selanjutnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, dia mulai membaca beberapa buku yang sederhana.

Sampai hari ini, pada usia enam setengah tahun, dia sudah membaca banyak buku. Kadang-kadang saya memintanya untuk membaca keras-keras. Kadang dia mau, tapi kadang juga menolak. Tidak apa-apa, pikirku, yang penting dia sudah bisa membaca.

Yah, waktu tiap anak untuk menguasai satu hal memang berbeda-beda, seperti juga orang dewasa. Yang terpenting ada keinginan untuk bisa, dan tidak pernah berhenti belajar setelah mengetahui dan menguasai satu kecakapan.


Saturday, April 20, 2013

Membuat Api Dengan Kaca Pembesar

Halo, apa kabar?

Setelah lama tidak menulis di blog, di beberapa postingan selanjutnya saya mencoba menuliskan lagi kegiatan anak-anak kami. Kebanyakan yang bisa saya rekam adalah kegiatan membuat percobaan atau eksperimen.

Kali ini anak-anak mencoba membuat api dengan menggunakan loop (kaca pembesar). Mereka mendapat benda 'ajaib' ini sebagai oleh-oleh dari ayah dan dari rumah eyang mereka di Solo.

Kenapa saya menyebutnya sebagai benda ajaib? Karena kaca pembesar bisa mengumpulkan panas matahari dan mengubahnya menjadi api. Api beneran, yang bisa membakar? Iya dong, memangnya ada api yang lain, hehehe..

Trus, syaratnya apa dan caranya bagaimana?

Syaratnya: Ketika melakukan percobaan mesti ada cahaya matahari langsung/ cuaca harus cerah. Caranya gampang, arahkan satu sisi kaca pembesar ke cahaya matahari, dan satu sisinya lagi ke kertas/daun kering. Gerakkan kaca pembesar mendekati atau menjauhi matahari sehingga terlihat ada satu titik di kertas atau daun kering. Kalau sudah kelihatan satu titik, jagalah agar posisi kaca pembesar tidak bergeser. Perhatikan deh, dalam beberapa detik akan muncul api dan membakar kertas atau daun itu.

Hal-hal yang perlu diwaspadai, jangan menggunakan terlalu banyak daun kering, karena api akan mudah membesar dan menyebar ke mana-mana. Selain itu, dipastikan adanya pengawasan orang dewasa/orang tua ketika melakukan percobaan ini.

Yuk, dicoba! Pasti menyenangkan bermain sambil belajar..

Membuat Api1

Membuat Api2

Wednesday, January 30, 2013

Jewel Beetle (Samber Lilin/Samber Iler)


Belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja, begitulah prinsip home education keluarga kami. Setiap hari tidak luput dari kegiatan belajar. Belajar bukan berarti harus membuka buku atau mengerjakan worksheet, tetapi mengamati sesuatu dan membicarakan suatu hal juga merupakan bagian dari belajar.

Saat itu kami sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman suami di Jawa Tengah. Dengan membawa kendaraan pribadi, tentu saja sang supir maupun para penumpang sering merasa lelah. Kami pun berhenti di tepi jalan di daerah Majenang untuk beristirahat. Saya akan keluar dari mobil, ketika tiba-tiba terdengar seruan anak-anak, "Bunda, lihat ini..bagus sekali serangganya!" Saya pun segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka. Ternyata anak-anak menemukan seekor serangga yang memiliki sayap warna-warni.

"Bunda, ini ada lagi..!" kata Kasih sambil berlari ke arah pohon-pohon waru. Anak-anak menemukan lebih dari satu serangga warna-warni itu. Ternyata ada banyak serangga yang serupa di daun-daun pohon waru di dekat lokasi kami beristirahat. Kelihatannya pohon-pohon di daerah itu merupakan habitat yang cocok untuk mereka berkembang biak.

Kasih menanyakan nama serangga itu kepada beberapa orang yang berjualan kelapa muda di dekat situ, tetapi dia hanya mendengar sekilas. "Kedengarannya seperti 'sambileler'," kata Kasih.

Beruntung ada banyak teman-teman di facebook yang gemar mempelajari serangga. Ketika kami memuat foto-foto serangga cantik itu di dinding FB saya, teman-teman itu memberi tahu bahwa nama lokalnya adalah 'samber iler' atau 'samber lilin'. Sementara nama Latinnya adalah Chrysochroa fulminans. Serangga ini merupakan keluarga dari Buprestidae.

Dengan bantuan teman-teman, saya dan anak-anak menjadi tahu nama dan jenis serangga tersebut. Dari situ saya belajar bahwa ketika kita menyimpan pengetahun untuk diri kita sendiri, pengetahuan itu hanya milik kita sendiri. Tetapi ketika kita membagikan pengetahuan kepada yang lain, maka pengetahuan kita dan orang lain juga akan bertambah.

Friday, October 12, 2012

Pinguin dari Botol Bekas

Salah satu kebiasaan anak-anak adalah mengumpulkan barang bekas seperti botol-botol plastik bekas minuman ringan atau air mineral, kantong plastik, pembungkus, atau karton susu. Biasanya setelah digunakan, barang-barang itu dicuci dan dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam kardus bekas.

Kadang-kadang pusing juga karena barang-barang bekas jadi menumpuk di rumah dan tidak tahu harus dibuang ke mana. Kalau ada pemulung biasanya kami berikan, tetapi tidak semua pemulung mau menerima jenis barang tertentu.

Salah satu solusi yang mungkin adalah menggunakan kembali barang tersebut setelah di-'daur ulang'. Proses daur ulang yang kami lakukan adalah membuat barang-barang kerajinan/craft dari barang bekas itu.

Ide kerajinan tangan kali ini adalah membuat pinguin dari botol bekas minuman ringan (Coke). Sumber idenya bisa dilihat di berbagai blog/website, tapi yang kami gunakan bersumber dari sini.

Bahan dan alat yang dibutuhkan:

  1. Botol bekas minuman ringan (Coke) 2 buah
  2. Cat akrilik/PVA putih, hitam, dan berbagai warna
  3. Vernis
  4. Kuas
  5. Spidol hitam
  6. Benang wool
  7. Kain bekas untuk syal pinguin
  8. Gunting

Cara pembuatan:

  • Cuci bagian luar dan dalam botol, lalu keringkan
  • Potong botol yang satu menjadi dua bagian sama panjang seperti gambar di bawah ini
sumber: di sini


  • Potong botol yang lainnya seperti gambar di bawah ini:

sumber: di sini

  • Cat bagian luar botol dengan cat dasar warna putih
  • Gambar perut pinguin dengan spidol hitam seperti gambar di bawah ini
sumber gambar: di sini

  • Cat bagian perut dengan warna putih. Hati-hati agar tidak melewati garis pembatas
sumber gambar: di sini

  • Cat bagian luar dan kaki pinguin dengan warna hitam

  • Cat bagian atas/kepala pinguin dan hiasi

  • Gambarkan mata dan paruh pinguin pada bagian perut (yang berwarna putih)
  • Setelah cat mengering, lapisi dengan cat vernis agar mengkilap (opsional)
  • Buat pompom dengan menggunakan benang, tempelkan ke bagian atas kepala pinguin
sumber gambar: di sini

  • Hiasi dengan 'syal' yang terbuat dari kain bekas

 Pinguin telah selesai dan bisa digunakan sebagai tempat alat tulis dan gunting..

sumber foto: dokumen pribadi dan pinguin de garafa pet

Sunday, June 10, 2012

Angry Bird

Anak-anak sedang demam angry bird. Awalnya saya tidak paham apa itu angry bird, sampai suatu kali mencari game yang cocok di chrome store dan tertarik untuk mengunduh angry bird. Ternyata permainannya cukup seru, yaitu bagaimana kelompok burung yang marah berusaha mengalahkan kelompok babi yang mencuri telur-telur mereka. Dengan menggerakkan ketapel dan mengarahkan ke tempat para babi, kita berusaha menghancurkan mereka dan memperoleh nilai.

Sambil bermain maupun ketika tidak bermain, kami berdiskusi tentang bagaimana memposisikan ketapel, baik arah maupun tarikan, agar bisa tepat mengenai sasaran. Kasih belajar bahwa untuk letak sasaran yang berbeda maka tarikan maupun arah akan berbeda. Sambil bermain bisa belajar tentang fisika juga, ya?

Selain main game, anak-anak juga membaca beberapa komik tentang angry bird di internet, yang menceritakan kisah-kisah angry bird dalam berbagai episode. Tak jarang saya merasa kagum dengan para pembuat angry bird yang bisa membuat kisah yang begitu memukau sehingga anak-anak merasa tertarik untuk membacanya. Kadang-kadang saya meminta mereka untuk menceritakan kisah yang baru mereka baca, ketika kami sedang santai atau dalam perjalanan ke suatu tempat. Meskipun belum bisa membaca, Anugrah bisa menceritakan kisahnya sesuai dengan imajinasinya ;).

Sementara itu, Anugrah yang suka dengan craft mencari banyak pola-pola angry bird di internet untuk kegiatan craft-nya. Pola-pola itu diwarnai, lalu digunting dan direkatkan sehingga menjadi boneka-boneka angry bird. Tak lupa juga dia memintaku membuat boneka angry bird rajutan. Bunda yang malas, hanya bisa membuat satu boneka angry bird kuning, sementara anak-anak sudah membuat banyak boneka angry bird dari kertas. Boneka-boneka angry bird itu juga mereka gunakan untuk bermain 'game' angry bird 3D, yaitu angry bird boneka :)).

Dari satu topik yang disukai, anak-anak bisa belajar banyak hal, mulai dari fisika, bercerita, craft, maupun berimajinasi. Saya pikir banyak hal yang bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan, bahkan dengan demikian mereka lebih ingat dan lebih menyukai pelajaran tersebut, karena diperkenalkan sesuai dengan minat dan pemahaman mereka.

Angry Bird Rajutan dan Craft Gunting-Tempel

Wednesday, March 21, 2012

Mengapa Lilinnya Mati?

Percobaan dengan lilin ini pasti disukai oleh anak-anak, karena mereka biasanya selalu memperhatikan bagaimana lilin bisa menyala, dan apa yang terjadi jika lilin tersebut diperlakukan sedemikian rupa.

Bahan dan alat yang digunakan:
- empat batang lilin
- korek api
- air
- pewarna
- piring
- gelas bening
- karet gelang

Cara melakukan percobaan:
- tuang air ke atas piring dan tetesi dengan pewarna
- nyalakan sebatang lilin lalu tegakkan perlahan-lahan di atas piring yang berisi air
- ambil gelas dan tutup lilin dengan gelas hingga mulut gelas menempel ke dasar piring, perhatikan bahwa lilin akan padam dan air di piring akan naik ke dalam gelas.
- beri tanda untuk mengetahui tinggi air yang naik pada gelas dengan menggunakan karet gelang.
- ulangi percobaan dengan menggunakan jumlah lilin yang berbeda.

Di sini kami melihat bahwa semakin banyak lilin yang digunakan, maka semakin cepat lilin padam ketika ditutup dengan gelas dan level air yang ada di dalam gelas juga semakin tinggi. Juga ada gas/uap yang keluar dari lilin ketika lilin dibakar.


Tuesday, February 14, 2012

Mengamati Perkembangan Nyamuk

Anak-anak mengamati di bak kamar mandi sering ada binatang kecil yang mengambang. Kata bunda itu jentik-jentik nyamuk. Mereka mengambil jentik-jentik itu dan memasukkannya ke dalam stoples untuk diamati.

Jentik-jentik
Awalnya sebagian jentik-jentik yang mengambang di air berubah ukuran menjadi lebih kecil, namanya kepompong/pupa.

Sebagian jentik-jentik berubah menjadi pupa/kepompong
Selanjutnya kempompong atau pupa berubah menjadi nyamuk.

Pupa berubah menjadi nyamuk
Pengamatan selama beberapa hari menyimpulkan bahwa terjadi tahapan dalam kehidupan nyamuk, mulai dari jentik-jentik => kepompong => nyamuk. Sebenarnya ada tahapan lain sebelum menjadi jentik-jentik, yaitu telur, tetapi karena telur nyamuk sukar untuk diamati, maka tahapan tersebut tidak ditulis di sini.

Kami juga merekam ketika jentik2 berenang di dalam air, semoga bisa dinikmati... :)





Thursday, November 10, 2011

Guinea Pig/Tikus Belanda/Marmut

Awal bulan Oktober yang lalu, Kasih dan Anugrah mendapat hadiah sepasang Guinea Pig (Ind: Tikus Belanda/Marmut) dari seorang teman. Mereka sangat senang, dan memberi nama Bell U untuk yang jantan dan Marmer untuk yang betina.


Kami banyak belajar tentang Guinea Pig selama memelihara Bell U dan Marmer. Kasih mulai mencari di internet tentang taksonomi/klasifikasi hewan untuk Guinea Pig. Selama ini kami menyebut binatang itu marmut, tetapi ternyata guinea pig berbeda dengan marmut/marmota. Keduanya termasuk  order Rodentia, tetapi Guinea pig merupakan family/keluarga Caviidae, sedangkan Marmota merupakan keluarga Sciuridae. Nama latin guinea pig adalah Cavia porcellus. Tetapi kami tetap menyebutnya marmut, mengikuti nama yang umum dipakai di Indonesia.

Selain belajar tentang taksonomi, kami juga belajar tentang jenis kelamin guinea pig. Guinea pig jantan memiliki penis yang dapat dilihat ketika kita menekan perutnya, pada betina akan terlihat lubang kelamin dan dua puting susu. Ketika marmut betina mengandung, Kasih belajar mengamati perubahan fisiknya. Terlihat perutnya membesar dan bentuk tubuhnya berbeda dengan marmut yang jantan.

Marmut jantan / male guinea pig

Marmut betina/ female guinea pig

Pada hari ke-31 kedua marmut berada di rumah kami, tepatnya pada tanggal 5 November 2011, Marmer melahirkan anak-anaknya. Pada awalnya kami tidak memperhatikan adanya kejanggalan, tetapi seharian kedua marmut ribut meskipun sudah diberi makan. Ketika Kasih menengok ke tempat marmut berada, ternyata seekor bayi marmut telah lahir. Selang beberapa menit kemudian lahirlah bayi kedua. Sang induk menjilati anak-anaknya untuk membersihkan bulu-bulu mereka yang basah. Setelah itu kami melihat kejadian yang langka, induk marmut memakan plasentanya sendiri!

Kasih juga belajar bertanggung jawab dengan memberi makan marmut-marmutnya setiap hari, bahkan dia rela mencari rumput-rumput untuk makanan mereka. Suara-suara mereka pun ditirukannya, sehingga kadang-kadang saya terkecoh :).




Friday, September 30, 2011

Mengunjungi Tempat Pembuatan Tempe


Di dekat rumah kakek di Medan ternyata ada tempat pembuatan tempe. Saat liburan Kasih dan Anugrah mengunjungi tempat itu dan melihat-lihat proses pembuatan tempe di sana.

Di tempat pembuatan tempe itu ada beberapa orang karyawan yang sedang bekerja. Beruntungnya, ada seorang bapak pekerja di sana yang baik bersedia menceritakan kepada kami proses pembuatan tempe dari awal sampai selesai.

Bapak itu bercerita bahwa tempe dibuat dari kacang kedelai yang mengalami proses fermentasi dengan bantuan bakteri/ragi. Proses pembuatan tempe dimulai dengan perendaman kedelai dan pengupasan kulit ari dengan alat pengupas. Setelah dikupas, kedelai direbus sampai mendidih, lalu airnya disaring. Setelah disaring, kedelai disiram lagi dengan air panas, lalu dibiarkan selama satu malam. Keesokan harinya, kedelai dicampur dengan ragi/bakteri pembuat tempe, lalu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik dan disimpan pada suhu ruangan. Proses fermentasi kedelai menjadi tempe berlangsung selama satu hari, setelah itu tempe siap dikirim kepada konsumen maupun pedagang eceran.

Terbersit keinginan di hati bunda untuk mengajak anak-anak belajar membuat tempe sendiri. Meski demikian, bunda tidak memaksakan keinginan tersebut kepada Kasih. Nanti pada waktunya kami akan membuatnya, ketika semuanya sudah siap, baik bahan-bahan maupun keinginan belajar Kasih.

Wednesday, September 28, 2011

Mengunjungi Maha Vihara Maitreya

Setelah melihat-lihat lokasi penangkaran burung bangau, kami berpindah tempat menuju Maha Vihara Maitreya, yang terletak tidak jauh dari tempat burung-burung tadi bersarang. Vihara ini adalah tempat ibadah para penganut agama Budha. Disebut maha vihara, mungkin karena bangunannya sangat besar dan megah.

Di halaman vihara terdapat empat buah patung seperti naga/singa. Di dalam ruang pemujaan di lantai dasar, terdapat tiga patung Budha. Di sisi antara dua bangunan terdapat kolam dan patung Dewi Kuan Im (Guanyin). Di sisi kiri bangunan terdapat ruang pertemuan dan tempat bermain anak-anak. Kasih, Anugrah dan adik Kynthia bermain-main dengan gembira di tempat bermain tersebut, bersama dengan anak-anak lain.

Ketika kami berada di sana, sedang diadakan acara pemujaan kepada sang Budha. Orang-orang bersembahyang dengan khusuk, dan kami bisa melihatnya. Kelihatannya vihara itu juga merupakan salah satu lokasi pariwisata, karena tempatnya terbuka bagi siapa saja yang ingin masuk dan melihat-lihat di sana.

Burung Bangau

Saat liburan di Medan, kami melihat sekelompok burung yang terbang di langit rumah. Ternyata komunitas burung bangau itu membuat bersarang di dekat sebuah vihara di Medan. Kami pernah melewatinya pada malam hari, tapi sayang tidak begitu terlihat karena gelap. Jadi kami memutuskan untuk mengunjunginya sekali lagi.

Kami tiba di tempat pemeliharaan burung-burung bangau pada sore hari yang lain. Ketika kami tiba di sana, sudah banyak orang berkumpul di sekeliling danau kecil tempat burung-burung bangau itu beristirahat. Lokasi itu ternyata merupakan salah satu tempat yang banyak menarik perhatian umum, sehingga banyak dikunjungi orang-orang dari berbagai tempat. Pemandangan hari itu memang sangat luar biasa, ratusan burung bangau bertengger di ranting pohon-pohon yang ada di tengah danau kecil tersebut, dan yang lainnya terbang di sekeliling tempat itu untuk mencari tempat istirahat.

Sampai malam menjelang, kami masih di sana memperhatikan kegiatan burung-burung bangau tanpa merasa bosan. Para pedagang juga ikut meramaikan suasana dengan berbagai makanan dan minuman yang mereka jual. Ketika hari sudah semakin gelap, kami pun beranjak dari tempat itu.



Thursday, September 8, 2011

Tantangan 30 Hari dari Klub Oase (Sudah Selesai)

Tantangan Klub Oase untuk mendokumentasikan kegiatan anak-anak selama 30 hari sudah berakhir.

Mengapa saya tertarik mengikuti kegiatan ini? Karena menurut saya kegiatan ini menolong saya untuk membuat portofolio kegiatan homeschooling anak-anak kami, sekaligus belajar membuat scrapbook / kolase sederhana.

Beberapa momen yang berkesan ketika kami mengikuti kegiatan ini adalah:
- Ketika berusaha mencari kegiatan yang 'menantang' bagi anak-anak setiap hari
- Ketika melihat kemajuan dalam kemampuan/pengetahuan anak-anak yang sebelumnya tidak terlalu kami perhatikan (salah satunya ketika mengetahui Anugrah sudah bisa mengancingkan dan membuka kancing bajunya)
- Selain itu kami banyak mendapat inspirasi dari kegiatan teman-teman lain dan dari kolase foto2 mereka

Kami juga menghadapi hambatan ketika mengikuti kegiatan ini, antara lain ketika kegiatan-kegiatan anak-anak mungkin tidak terlalu bervariasi pada hari-hari tertentu (kegiatan yang dilakukan berulang-ulang) sehingga mengurangi motivasi untuk mendokumentasikan. Untuk itu kami berusaha mencari aktivitas yang lebih inovatif dan menantang anak-anak untuk melakukan sesuatu yang baru. Selain itu ada juga kesibukan lain yang membuat kegiatan mendokumentasikan tertunda sehingga harus di'rapel'.

Anugrah biasanya tidak terlalu peduli dan lebih spontan dalam melakukan sesuatu, sehingga banyak momen yang kami dokumentasikan adalah hasil kegiatan spontan dan kemajuan yang terlihat dari dirinya. Sementara Kasih tahu bahwa kegiatannya akan didokumentasikan dan di'tampil'kan di wall fb ibunya. Hal ini memotivasinya untuk mencari kegiatan yang menarik.

Manfaat bagi saya sendiri adalah, saya belajar membuat kolase / scrapbook dengan software-software gratis (terima kasih ya.. :)), dan teman/kontak saya di fb jadi bertambah ;). Selain itu, meskipun sehari-hari kami selalu melakukan kegiatan bersama, tetapi dengan adanya tantangan ini kami menjadi lebih kompak :D dan portofolio kegiatan anak-anak jadi lebih lengkap dibandingkan ketika tidak ada tantangan

Saya berusaha menyelesaikan tantangan ini karena saya berprinsip, jika saya berani menerima sebuah tantangan, berarti saya harus menyelesaikannya sampai akhir :). Walaupun ini sebuah tantangan yang cukup berat dan kadang-kadang saya juga merasa bosan, tapi saya berusaha melihatnya sebagai kegiatan 'bersenang-senang bersama keluarga' yang dilakukan secara wajar, yang didokumentasikan dan akan menjadi kenangan yang manis bagi semua orang.

Saya berterima kasih kepada pengurus klub Oase atas tantangan 30 hari ini, karena saya jadi belajar mendokumentasikan kegiatan-kegiatan anak-anak kami selama 30 hari. Tak lupa mohon maaf jika ada posting dan komentar saya yang kurang berkenan di hati teman-teman lain. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang lain, dengan kegiatan-kegiatan mereka yang menginspirasi kami. Semuanya bagus!

Berikut sertifikat dari Klub Oase atas keberhasilan kami menyelesaikan tantangan 30 hari tersebut. Kereen...! Terima kasih :)

Monday, August 15, 2011

Membuat Tempat Makanan Burung (Daur Ulang Karton Bekas Susu)


Karton bekas susu merupakan salah satu limbah (baca: sampah) yang banyak dihasilkan di rumah tangga, yang mengkonsumsi susu cair. Karton bekas susu termasuk kategori sampah yang bisa di-recycle (daur ulang), tetapi saya belum mendengar pemerintah kita sudah melakukannya sampai saat ini.

Karton bekas susu bisa dimanfaatkan lagi (dari pada dibuang dan jadi limbah) menjadi berbagai macam barang yang berguna. Salah satunya adalah membuat tempat makan burung. Caranya:
1. Potong kotak bekas susu (ukuran 1 liter) setinggi kurang lebih 10 sentimeter dari dasar karton.
2. Potong bagian rusuknya sepanjang kurang lebih 5 (lima) sentimeter dan lipat keluar
3. Buat lubang di kedua belah sisi yang tidak terlipat dan masukkan ranting kayu untuk tempat burung bertengger
4. Buat lubang di ke-empat sisi untuk tali penggantung
5. Jika perlu, buat penutup/atap dari karton/kardus bekas yang dipotong segi empat dan ikatkan ujung-ujung tali penggantung pada keempat sisinya.
6. Isi karton dengan makanan burung
7. Gantung di atas pohon yang sering didatangi oleh burung-burung.

Kegiatan membuat tempat makan burung bisa menjadi aktivitas yang menarik untuk anak-anak, sekaligus mengajar mereka untuk mencintai makhluk ciptaan Tuhan.

Wednesday, August 10, 2011

Membuat Kue Putri Salju


Anak-anak suka membuat kue, karena kegiatan itu membuat mereka sibuk, mulai dari mempersiapkan bahan, mencampur adonan, mencetak, sampai menyajikan.

Kue putri salju adalah salah satu makanan favorit anak-anak. Mungkin karena ada taburan gula halus yang terasa manis di lidah, atau karena teksturnya yang renyah. Apa pun alasannya, mereka ingin membuat kue itu kali ini.

Bahan-bahannya juga mudah didapat, yaitu :
Margarin 200 gram
Tepung terigu 200 gram
Gula pasir 50 gram
Kuning telur 1 butir
Gula halus untuk taburan
Kacang tanah kupas 100 gram, dihaluskan

Cara membuatnya:
- Kocok margarin dengan gula pasir
- Masukkan kuning telur, kacang tanah, dan tepung terigu sambil diaduk rata.
- Uleni adonan sampai merata, lalu bulatkan.
- Dinginkan adonan di dalam lemari es selama kurang lebih 30 menit
- Cetak sesuai dengan bentuk yang disukai
- Panggang di dalam oven hingga berwarna kuning kecoklatan
- Taburi gula halus sampai permukaan kue menjadi putih
- Kue siap dihidangkan!

Monday, August 1, 2011

Belajar Menulis Angka


Anugrah sekarang berusia 4 tahun 8 bulan. Dia suka bermain, belajar sambil bermain, dan melakukan aktivitas yang disukainya sepanjang hari, yaitu bermain, hehehe...

Tidak seperti anak-anak lain seusianya, sampai saat ini kami belum mengajarkan membaca dan menulis secara intensif. Belajar dilakukan sambil bermain, pada saat dia tertarik, tetapi tidak dipaksakan.

Hari itu Anugrah melihat sebuah easel board (papan tulis yang dapat dihapus dengan cara menarik sebuah alat di bagian bawah papan) kepunyaan sepupunya. Dia melihat alat tersebut bisa ditulisi dan dihapus dengan mudah. Anugrah mencobanya dengan menuliskan angka-angka di papan tersebut, dan dia mencoba menulis angka nol sampai lima. Beberapa kali saya melihat dia menghapusnya, karena ada sedikit kesalahan penulisan. Saya melihat bahwa dia termasuk anak yang perfeksionis, sehingga sedikit kesalahan membuatnya harus mengulang dari awal.

Menarik kesimpulan dari pengamatan itu, akhirnya kami memutuskan untuk tidak membelikan easel board, agar dia belajar untuk percaya diri tanpa harus mengulang-ulang pekerjaannya, walaupun tidak sempurna. Mudah-mudahan keputusan ini yang terbaik buatnya.

Friday, July 15, 2011

Bayanganku Terbalik? (Belajar di Meja Makan)

Belajar di meja makan kali ini adalah tentang cermin. Secara tidak sengaja, Kasih bercermin pada bagian cekung sendok stainless steel yang dipakainya untuk makan, lalu dia berseru, "Bunda, bayanganku terbalik." Lalu dia bercermin pada bagian belakang sendok, dan ternyata bayangannya tidak terbalik. Anugrah juga mencobanya, dan ternyata hasilnya sama :)).

Belajar tidak hanya ketika duduk di bangku sekolah, di mana saja kita bisa belajar, demikian juga anak-anak. Belajar tidak harus membaca dan menghafal buku teks, tetapi bisa dilakukan dengan fun dan tetap melekat di pikiran anak-anak.

Friday, July 8, 2011

Membuat Play Dough






"Bunda, bikinkan play dough," pinta Anugrah suatu hari. Beberapa waktu yang lalu Anugrah diajak temannya bermain dengan lilin mainan (malam) yang bisa dibuat berbagai macam bentuk. Sebenarnya kami sudah sering membuat play dough, tetapi play dough tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi karena kering. Karenanya hari itu kami membuatnya lagi.

Resep play dough yang kami buat adalah:
- Tepung terigu (protein tinggi) 1 cup
- Garam 1/2 cup
- Air 1 cup
- Minyak goreng 1 tbsp
- Cream of Tartar 1/2 tbsp (optional)
- Pewarna makanan secukupnya

Cara membuat:
1. Campur tepung terigu, garam, minyak goreng, dan cream of tartar.
2. Masukkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata.
3. Masak adonan di atas api kecil sambil diaduk sampai berubah menjadi seperti adonan donat.
4. Angkat adonan dan bagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan jumlah pewarna yang ingin ditambahkan.
5. Campur pewarna ke dalam salah satu adonan dan uleni dengan tangan sampai kalis (tidak lengket di tangan). Lakukan hal yang sama dengan adonan yang lain, dengan warna yang berbeda-beda.
6. Play dough siap dipakai :)
7. Simpan di wadah yang kedap udara. Play dough ini akan tahan selama beberapa bulan.

Friday, June 10, 2011

Membuat Indikator pH Alami dan Percobaan Asam Basa





Indikator pH bisa dibuat dari bahan alami, yaitu kol merah/ungu. Caranya: kol merah/ungu direbus dalam air sampai warna air berubah menjadi ungu. Setelah dingin, air hasil rebusan dapat digunakan untuk menentukan sifat asam-basa suatu bahan.

Bahan-bahan yang akan diperiksa adalah bahan-bahan yang bisa didapat di rumah, di antaranya cuka, sabun cair, kecap, saus tomat, air minum, dan lain-lain.

Siapkan bahan-bahan di atas di dalam wadah apa saja, asal mudah dilihat perubahan warnanya. Tuangkan sedikit air rebusan kol ungu, dan perhatikan perubahan warna yang terjadi.

Jika warna cairan berubah menjadi merah, oranye, pink, atau coklat, maka bahan-bahan yang diperiksa itu bersifat asam, sedangkan ketika warna berubah menjadi hijau, maka bahan-bahan itu bersifat basa. Kalau warna cairan tidak berubah (ungu), maka larutan itu bersifat netral.

Referensi: klik di sini

Wednesday, June 8, 2011

Menonton Travel Mart 2011

Travel Mart adalah ajang pameran para mahasiswa dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung atau yang lebih dikenal sebagai NHI (EnHaI). Mereka mempertunjukkan berbagai produk kebudayan daerah-daerah di Indonesia, yang nantinya akan dinilai oleh para juri.

Pada tanggal 31 Mei yang lalu anak-anak dari kelompok Belajar Bersama datang ke Travel Mart untuk meyaksikan pameran kebudayaan daerah-daerah tersebut. Mereka melihat mulai dari rumah tradisional tiap daerah, makanan, pakaian, bahasa, dan seni budaya daerah-daerah tersebut. Menarik, karena mereka melihat bahwa Indonesia begitu kaya dengan warisan budaya yang luhur, yang sepatutnya dibanggakan dan dipromosikan ke seluruh dunia.

Berikut beberapa foto yang diambil pada event Travel Mart 2011.




Sunday, May 29, 2011

Dikenang Sebagai Orang Yang Bagaimana?

Biasanya anak-anak minta dibacakan buku menjelang mereka tidur. Kali ini kami membaca kitab suci yang menceritakan tentang seorang perempuan yang meminyaki kaki Yesus (Isa) dengan minyak narwastu yang wangi dan mahal, ketika dia makan bersama di rumah Simon si kusta. Pada akhir cerita itu dikatakan oleh Isa bahwa di mana pun Injil diberitakan, maka kisah tentang perempuan ini akan diceritakan juga untuk mengingatnya.

Selesai bercerita, saya bertanya, "Kalau Kasih nanti sudah tidak ada, Kasih ingin dikenang orang-orang sebagai orang yang bagaimana? Sebagai orang yang hebat, yang baik, atau yang mengasihi Tuhan?" Kasih tidak menjawab, tetapi saya berharap di dalam hatinya dia memikirkan hal itu. Bagian orang tua adalah menabur dan berdoa agar Tuhan menjaga anak-anak supaya terus berada di jalan yang telah disiapkan oleh-Nya bagi mereka..


sumber gambar :http://tiny.cc/x0a9m
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...